Maret 24, 2011

Kerikil Kiri di Perbatasan


Di sini. Masih saja belum tuntas kumenghitung berbiji-biji kerikil yang telah lama kusimpan sedari awal tahun lalu. Sedang berbiji-biji pijar mesiu yang terlontar mengelegar di serentangan garis langit tiada hentinya menarik garis bidang abstrak mataku. Warna pijarnya memprovokasi mata ini tuk merengek pada kepala agar berkenan mendongakkan dirinya di ketinggian kaki langit.



Bagai sepuhan kuning tembaga di langit yang gosong. Kembang-kembangan api merekah menjilat-jilat pipi langit membekaskan wewarna indah. Deru tarikan pedal gas motor membahana meraung-raung terdengar di kejauhan sana. Sesekali liukan asap putih menyusup kisi jendela kamar ini menebarkan aroma gurihnya daging pembakaran. Rupanya malam ini ada pesta di ujung juru sana. Ada hingar bingar terdengar. Sedang di sini, aku masih diam terpaku. Menatap bisu pada dua toples kaca yang kujuru. Diri ini sedari tadi menekur kabur. Llinglung menghitung. Ya, menghitung yang belum juga tuntas kuhitung.



Saat ini. Lidahku telah menjentikkan ucap bilangan ratusan. Gebyar di luar tak mampu membungkam gundah dalam hati. Semakin bilangan menanjak, hati kian terinjak gulana. Ucap mengendap-endap bergerak tersendat oleh hati yang berubah cemas. Bibir sudah tak karuan membentuk formasi ucap. Bergetar. Lirih. Nyaris tak jelas terdengar. Sesekali lidah terkilir. Tersaruk-saruk. Hati kian berhasil membajak sistem koordinasi faal tubuh ini.



Seribu tujuh ratus sekian sudah hitungan kerikil di tanganku ini. Galau kian menjadi-jadi. Pikiran ini kembali mengingat-ingat hasil hitungan kerikil-kerikil dalam toples yang pertama. Astagfirullah!!.. hanya sebelas biji!! Betapa menyisakan jarak teramat jauhnya hasil hitungan kerikil-kerikil ini. Kerikil dari toples berlabel “kiri” jauh mengungguli jumlah kerikil dari toples berbandrol "kanan". Kerikil kiri berhasil menghempaskan kerikil kanan. Mempecundanginya. Kalah angka. Telak. Men-TKO. Babak belur. Berdarah-darah.



Dalam seperjalanan ini aku telah memproduksi potensi kerikil-kerikil kiri jauh melampaui kerikil kanan. Tanpa pernah kusadari kerikil kiri mereproduksi dirinya sendiri. Menduplikasi. Membelah diri. Beranak pinak. Berkoloni. Membentuk persekutuan yang tak mampu aku antisipasi karena memang eksistensinya muncul atas prakarsa orisinil diriku. Bukan siapa-siapa. Tidak ada intervensi. Keberadaannya tanggung jawab diriku. Perkembangbiakan kerikil kiri meruah hingga aku lupa semestinya aq menyertakan kerikil kanan sebagai pihak oposan sebagai kekuatan penyeimbang. Bahkan atau pula seharusnya sebagai pihak penguasa. Bukan sebaliknya.



Pihak kerikil kanan terlunta-lunta. Tak terurus dalam diriku. Dia selalu menjadi pihak yang teraniaya. Termarjinalkan dalam kosmologi kedirianku. Selama ini aku lebih asyik memperanakkan nafsu kerikil kiriku. Aku terlupa bahwa kerikil kananlah yang kelak menolongku. Membopongku. Menggendongku. Meraih tanganku saat ku terjatuh. Kerikil kanan adlah daya hangat saat dingin menyengat. Kerikil kananlah yang sebenarnya menjadi peneman sejati di hari yang tiada ada keluarga, saudara dan teman yang bakal berguna bagiku. Karena semuanya mesti sibuk dengan dirinya sendiri. Terpontang panting menyelamatkan dirinya sendiri.



Sedang kerikil kiri sesungguhnya adalah duri dalam daging. Tak terasa keberadaannya. Tiada tersadari bahwa duri ini telah melukai daging. Bahkan kelak bila telah berpuak-puak mereka akan menenggelamkan diriku. Memerosokkan diriku dalam kubangan kebinasaan. Meludahiku. Menyerapahiku. Mereka yang akan menyiksa diriku yang dulu pernah kupiara.



Mencubit. Menyikut. Menampar. Menelikung. Menyerobot. Menjegal. Menjarah. Merampas. Sudah menjadi kebiasaanku di sepanjang tahun lalu. Tak satupun kutemui seseorang maka kugamit tangannya dengan salam kebencian. Tak jua kutinggalkan seseorang melainkan meninggalkan luka di hatinya. Fakir, apa yang dia dapati hanya cemoohan dariku. Orang lemah hanya menjadi bulan-bulanan pelampiasan superiotas tengiknya diriku. Tiada pula yang diterima sang peminta kecuali wajah bengisku. Aitam tersia-siakan dalam terang mataku. Hardik dan keluhan senantiasa menyapa mereka. Tangan ini tak pernah sedikitpun merekahkan jemari selain menggerogoti hak-hak mereka. Kalaupun toh ada tersiar-siar khabar sepanjangan tangan pemberian maka itu hanya atribut mulut. Hati selamanya mengempedu. Tangan senantiasa mengabadi mengepal tak rela apa yang berada di genggamannya berpindah tangan. Pemberian tak lebih hanya alat propaganda diri yang selalu diselebrasi. padahal sejatinya aku kemas duri dalam pemberian. Aku sepuh loyang keemasan hanya demi sebuah reputasi diri.



Aku sangat anti konglomerasi yang hanya sibuk meunumpuk materi tanpa peduli orang kecil. Akulah yang tak segan-segan menghujat mereka. Membenci prilaku mereka. Mengutuk mereka karena kenapa bukan aku yang dilimpahi materi sebagaimana mereka.



Teriakanku selalu mengudara membahana lantang meneriaki si bejat laknat: “ maling!!..maling!!.. Sumpah serapah sudah menjadi selinganku mengutukinya. Aku pun selalu mesti berada di barisan terdepan dalam membendung aksi maling. Telunjukku menuding-nuding wajah maling. Padahal jauh dalam lipatan dompetku terselip lembaran-lembaran plastik merah hasil rekayasa nota kantor. Semua yang kukenakan. Kupakai. Kumakan adalah hasil jerih payahku dari sekian proyek yang telah aku mark up dengan cara elegan.



jangan tanyakan seberapa menggeloranya semangatku untuk melawan para penindas. Hegemoni penindasan, pendholiman, penganiayaan dari yang kuat adalah musuhku. Siapapun yang berdiri di belakangnya maka bersiap-siaplah menanti terjanganku. Aku tak sanggup bersabar hati melihat penindasan yang terjadi. Aku pasti menghadangnya. Melawannya. Aku rela memberikan diri ini untuk melawan si penindas bukan karena aku tak kuat hati melihat si tertindas. Melainkan aku tak kuat hati untuk tidak membalas si penindas untuk balik menindas. maka, terabadikanlah mata rantai penindasan.



Mempergunjingkan. Memakan bangkai saudara yang lain. Mensyiriki kelebihan orang. Menisbikan kebaikan sesama. Menihilkan peran orang lain, Adalah dzikir harian diriku. Aku tak melihat apapun dalam diri orang lain melainkan kekotoran, kedekilan, kesuraman, kekerdilan, keberkurangan dan kebejatan. Diri ini segala-galanya. Diri ini adalah bersih sejati. Benderang. Agung. Berkelimpahan. Sumber dari segala derma. Tiada yang bisa meng-atasiku. Dan memang tidak ada yang berhak dan boleh meng-atasiku. Karena Diri ini adalah atas dari segala yang atas.



Tapi bila aku sedikit saja agak berkanan-kanan rupa maka aku pun serta merta menjelma sosok berjanggut bersorban agung berselempangkan tasbih bak resi arab paling saleh. Padahal hakikatnya yang terselip di lipatan hati adalah keriyaan. Ubudiah 'alan nafsi. Pemberhalaan diri. Bila kuberjalanan menunduk-nunduk sejatinya bukan goddul bashor ataupun adab asor. Ketertunduk-tundukanku hanyalah strategi memfasilitasi keluasan bidang lirikan mata agar mampu menangkap sinyal simpatik dari sekitar.



Bahkan bila pula aku kelihatan lebih dalam mendalami kekanan-kananan maka tak ada yang bisa kudedikasikan selain keabaian. Lalai. Bermalas-malasan. Meremehkan. Cuek. Menomorduakan. Menyepelekan. Bahkan seringkali belagu tak pernah mengenal diri-Mu. Tiada kesalehan selain meninggalkan-Mu. Seolah-olah belagak pongah aku mampu hidup tanpa-Mu. Sanggup berjalan tanpa titian cahaya-Mu. Padahal aku hanya mampu meniti pada setapak yang telah Engkau terangi cahaya. Sedang bila cahaya-Mu Engkau redupkan. Dan lenyaplah cahaya itu. Gelap gulita menyergap. Maka sejatinya aku tak kuasa melangkah. Aku tak akan pernah tahu arah. Tak akan pernah tahu akan kubawa ke mana jasad ini tanpa cahaya-Mu...



Celakalah sudah Setahun perjalananku. Celakalah!!..



Wa qul Rabbi adkhilnii mudkhola shidqin

Wa akhrijnii mukhroja shidqin

Waj’alnii min ladunka sulthonan nasiron

*di seperbatasan malam 2010-2011*
Read More......

SEBUAH KOMA



Sejatinya kita tak lebih adalah koma. Bentuk peran kita sebagai manifestasi dari sebuah ke-eksistensi-an diri adalah koma. Ritme hidup, siklus dan metamorfosa kebermanusiaan kita sebagai makhluk, selamanya tetap melakoni kaidah sebagaimana layaknya koma. Kita tiada akan pernah mengabadi dalam satu titik, melainkan mengabdi pada sebuah koma. Kita pun senantiasa terus bergerak tak pernah berhenti pada satu titik meski sepertinya kita ternampak sedang berhenti. Pemberhentian kita tak lain adalah kesejenakan dari hakikat sebuah koma.

Kita sampai saat ini adalah perwujudan dari akumulasi deretan koma yang saban waktu menyisipi hari kita. Kelak pun dalam hari-hari lain yang niscaya kita jelang, deretan koma ini akan selalu setia menanti dan melingkupi hari-hari. Kita tiada akan pernah dibiarkan menyendiri tanpa kehadiran dirinya. Kita tidak diperkenankan bahkan tak berdaya menitik pada sebuah titik. karena kita dicipta bukan untuk mendiami dan memposisikan diri sebagai titik. Sepanjang sejarah perjalanan kita sebagai makhluk yang tercipta dan dicipta, koma selamanya menyertai hidup kita. Inti dari kemakhlukan kita adalah koma. koma adalah fitrah semesta.

Hidup kita adalah koma. Denyut dan pernak pernik hidup kita selamanya mengabdi pada koma. Kita didisain dan diperjalankan oleh Sang Maha Titik di atas konsep koma. kesedihan yang kita idap, bahagia yang kita kecap, tak lain adalah aplikasi dari sunnah koma. Tak selamanya kita berlinang airmata. Tidak pula terus menerus bergelimang sukacita. Di antara keduanya ada gap koma yang memberi jeda kita untuk bernapas sejenak. Keberadaan gap koma ini hadir memenggal sesengalan suka dan duka ini untuk mendedahkan hikmah yang mesti kita tafakuri. Dalam tiap sesengalan ini tak usah terjeremabab dalam kubang duka, tak patut pulalah terlena menantikan terbitnya penggalan sesengalan berikutnya. Yang mesti kita tadabburi adalah memaknai dan mengoptimalisasi esensi kesabaran di kala kita berduka. Dan harus pulalah kita mensyukuri karunia bahagia bila kita terlimpahi suka. Dan tentu melalui gap koma ini pulalah kita sedang diajari dan disadarkan kembali bahwa tiada sesuatu pun yang abadi dalam sebuah titik.

Maka, tak usahlah bemuram durja bila terendam duka. Tak patut pulalah pongah bila
Bahagia menyapa. Karena cepat atau lambat mekanisme koma akan segera mengintervensi hidup kita.
Read More......

IBU


cerita ini berdasarkan fakta. bila ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan saja. di luar kesengajaanku.. :)

Alkisah, seorang ibu yang baru melahirkan sangat terkejut ketika melihat bayi laki-laki yang baru dilahirkannya tiada memiliki daun telinga. Sempat ia tak rela. Tidak terima dengan kenyataan yang diderita bayi laki-lakinya. Nyaris ia menggugat pemberian Tuhan yang menurutnya tidak adil. Memang, ibu manakah yang tahan melihat penderitaan anaknya? Untung saja ibu ini segera menyadari kekeliruanya. Tak pantas kiranya bila ia menganulir keputusan tuhan. Tentu memang begitulah seharusnya, tiada sesiapa yang kuasa menolak takdir anak laki-laki pertamanya yang cacat, tiada berdaun telinga. Dan yang membuat ia lebih bertahan ikhlas menerima pemberian Tuhan ini adalah bahwa pendengaran bayi laki-lakinya masih cukup baik.

Waktu terus bergulir. Tahun pun senantiasa berganti, si anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mampu bergaul dengan teman seusianya. Pelajaran sekolahpun tak menjadi soal baginya. Sama sekali ia tak menemui kendala yang berarti mengenai intelegensinya. Ia cerdas dan ceria. Namun, satu yang membuat ia selalu dirundung pilu. Ia amat tak tahan dengann ocehan teman-temannya yang saban hari tiada henti-hentinya mengolok-oloknya. Air matanya perlahan merembes menetes setiap kali temannya mengatakan bahwa ia manusia planet luar angkasa. Sesekali ia menangis sesenggukan sendirian di kala teman-temanya menjauhi dirinya karena keterbatasan fisiknya yang menurut temannya bukan anak manusia. Ia sering dicibir manusia jadi-jadian. Bila sudah begini, hatinya bagai remuk tak terperi. Ia pulang dengan membawa kepingan hati yang terpecah-pecah tercerabut dari raganya. Jiwanya lumpuh merapuh. Satu-satuya yang mampu menguatkan pijak kakinya adalah sambutan hangat kasih ibu di rumah. Ya, dekapan ibunya yang berlimpah kasih jualah yang bisa merekatkan kembali hatinya yang terserak. Hanya sokongan tulus ibunyalah yang bisa menegakkan ia punya jiwa. Sungguh betapa sang ibu tiada pernah letih memotivasi si anak malang ini untuk selalu berlapang dada dengan kondisi fisiknya. Dan ibu ini jualah yang terus menerus menanamkan semangat mengembangkan potensi dirinya hingga bisa meraih prestasi gilang gemilang di sekolahnya sampai berlanjut ke perguruan tinggi.

Hingga pada hari di mana tersiar kabar menggembirakan dari dokter kenalan baik keluarga, bahwa si anak cacat yang telah tumbuh dewasa ini dapat menerima cangkok daun telinga. Dan cangkokan ini telah diterima lama dari pendonor. Mendengar berita ini, betapa bahagianya si anak tak bertelinga ini, meski ia pun tak tahu siapa gerangan orang baik yang telah tulus ikhlas mendonorkan daun telinganya. Prosesi operasi pun berjalan lancar. Sang anak malang yang lama telah kehilangan kepercayaan dirinya kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjelma manusia baru. Tak ubahnya seperti benar-benar baru saja dilahirkan kembali. Kontan, dengan semangat kepercayan dirinya yang melesat meningkat, prestasinyapun kian memukau.

Setelah purna studi, dan sukses menjadi seorang diplomat dengan dikarunai keluarga bahagia dengan dua orang anak, ternyata rasa penasaran tentang siapa pemilik daun telinga yang telah diberikan padanya belum terjawab. Kepada sang ayah, ia selalu pertanyakan. Namun sang ayah hanya bisa menjawab, “suatu hari kau pasti akan tahu sendiri!”.

Hingga berita duka menimpa keluarga ini. Ibunya yang selalu setia mendukungnya meninggal karena sakit. Sungguh, rasa kehilangan yang sangat menghunjam dada si anak semata wayang ini. Teringat ia, bahwa ibunyalah yang selama ini menemani kesedihannya. Ibunyalah orang pertama yang menyediakan badannya tuk jadi tempat pelipur laranya. Ibunyalah yang senantiasa setia menyalurkan telapaknya mengusap airmatanya yang mengairi pipinya. Ibunya baginya, tak ubahnya belahan badan dirinya yang terpisah. Bila ia sedih, maka suramlah ibunya. Bila ia bisa tertawa, bahagialah ibunya. Namun, kenangan selamanya tetap tinggal kenangan. Apa yang terjadi, terjadilah sudah. Sang ibu tercinta telah pergi ‘tuk selama-lamanya. Saat akan memberikan ciuman terakhir pada jasad ibunya, didampingi sang ayah, ia sempat terhenyak beberapa saat tatkala ia menyibakkan rambut ibunya. Ternyata ibunya tak memiliki telinga. Pencariannya yang bertahun-tahun yang selalu mengganjal hatinya kini terkuaklah sudah. Rupanya, perkataan ibunya selama ini diutarakan padanya bahwa lebih suka memanjangkangkan rambutnya, tiada lain adalah agar sang anak tak tahu bahwa ibunyalah yang rela mendonorkan daun telinga. Berderai dan semakin berderailah tangis sang anak.

***

…Seperti udara kasih yang engkau berikan,, begitulah petikan syair lagu indah Iwan Fals buat sang ibu. Terasa sangat pas dengan segala kasih ibu. Kasihnya tak perlu ia ungkapkan hingga anaknya tahu. Kasihnya tak membutuhkan pengakuan apalagi penghargaan. Kasihnya bak udara. Tak terlihat, tapi ia senantiasa ada memberi hidup. Sayangnya, dari saking tak terlihatnya kasih sang ibu, kita selalu saja dibuat lupa atau bahkan –sengaja- melupakan kasih ibu. Maka, tak jarang sampai-sampai kita berani membentak, menghardir bahkan mengancam satu-satunya orang yang selalu mendekap pertama kali kala kita terbekap dingin, susah. Puncaknya, saat ibu telah kehilangan kemampuan untuk mencurahkan kasih sayangnya, ia semakin dicuekkan oleh kita. Tatkala kehadirannya dianggap hanyalah merepotkan, ibu semakin disengsarakan. Dalam titik ini ia tak ubahnya sebuah barang yang telah aus, yang layak masuk gudang. Ya, ibu sekarang telah banyak dipensiunkan, digudangkan dalam “wisma sengsara” panti jompo. Sungguh betapa kita telah gelap mata. Durhaka sedurhakanya bila kita tak mampu membalas budi kasih sang ibu, walau hanya secuil!. Karena, pada dasarnya bilapun kita kumpulkan semua klaim kebaikan balas budi kita padanya, niscaya sepanjang usia kita, tiada mampu menggenapi kasihnya. Apatah lagi kita mengacuhkannya, mencuekkannya bahkan menelantarkannya. Teganya kita.

Mungkin kalau berani mau menakar, sejatinya kekuatan terbesar makhluk ciptaan Allah adalah Ibu. Ia terlampau perkasa bila hanya disejajarkan dengan ayah. Sudah umum, bahwa kuantitas duda atau janda beranak saling bersaing. Tapi, kalau dihitung tingkat kemampuan tekanan terhadap kehidupan, janda adalah jagonya. Keradaan Duda beranak hanyalah selintasan kedipan mata. Tak beberapa lama ia akan mengeluh dan tentu ia pun segera menanggalkan kedudaannya, mencari ibu baru bagi anaknya. Namun, tidak bagi janda beranak, ia mampu bertahan dari beratnya memikul sebuah beban (bukan berarti ia tak mau kawin lagi loh!). bukankah telah santer terdengar ibu-ibu mampu berdiri kokoh sebagai single parent. Ya, hanya ibulah yang mampu mengintegralkan dua kekuatan. Sekali waktu ia mapu menjelma bak ayah bagi anaknya dan sesekali pula ia kembali ke kodratnya hakikinya sebagai ibu. Beda dengan ayah, seberapapun kuatnya kodrat ia tercipta, ia tiada akan kuat dan mampu memerankan figure seorang ibu. Maka, pantas Rasulullah menegaskan sampai tiga kali saat ditanya sahabatnya, siapakah orang yang layak dimuliakan. Ibumu, ibumu, ibumu. Lalu, ayahmu.

Dalam khazanah bangsa-bangsa di seantero duniapun betapa ibu sangat disakralkan. Ia simbol kesucian. Bahkan posisinya, saking melimpahnya kasihnya, ditempatkan sejajar bersanding tuhan. Maka, jangan kaget bila Rasulullah pernah berujar lantang, “sungguh kalau tidak karena diwajibkan menyembah Tuhan, maka manusia kuwajibkan menyembah ibu!” Kita pula patut belajar banyak dari orang India. Coba sejenak putar kembali film-film jadul India. Bukankah film jadul India tak pernah lepas dari kisah-kisah epik?!, meski alur ceritanya mudah ditebak. Ibu, dalam film jadul India digambarkan sosok suci, tak boleh sedikitpun tersakiti, walau hanya seujung kuku. Maka, jangan sekali-kali Si Antagonis berani menyentuh ibu si protagonis. Karena, ia akan segera mengundang musibah. Seolah ada kekuatan besar merasuk bila ibunya diganggu, Sang Protagonis seketika menjelma monster pembunuh yang hebat bila kehormatan ibunya dipermainkan.

Oleh karenanya, sapai kapan lagi kita menunggu meneempatkan ibu kita dalam maqom tertinggi dalam dada kita? Beruntunglah sebenar-benarnya beruntung bagi mereka yang masih diberi kesempatan ditemani ibu. Namun mereka akan celaka secela-celakanya bila keberadaan ibu di sisi tak mampu menambah hormat dan cinta kepadanya. Akankah kita menunda mengekspresikan cinta kita hingga tercerabutnya ibu kita dari sisi kita?! Jangan pernah!!!

"met hari ibu (22 Des)" jangan undang neraka dalam mulutnya!!! hati2, kata2x amat bertuahnya."

(kisah diambil dan disariceritaulangkan dari tulisan "telinga sang ibu" dalam buku "setengah isi setengah kosong", karya marpaung parlindungan. serta diperkaya dan dibumbuhikmahkan oleh penulis)
Read More......

Mei 30, 2010

TERNYATA KITA AHLI WARIS PENDIRI PERADABAN DUNIA

“ Tongkat kayu dan batu jadi tanaman,,” sempat menjadi bait lagu yang populer. Koes Plus sepertinya tak membual. Mereka benar-benar tahu makna apa yang terkandung sepenggal bait ini. Ungkapan dalam bait ini bukanlah isapan jempol belaka. Ia ada. Ia fakta tak terbantahkan meski kadang bagi kalangan yang kerap underestimate ungkapan bait ini hanyalah tak lebih dari narsisme bullshit.

Namun bagaimana bila ungkapan sejenis terlontar dari mulut dan buah pikir seorang ilmuwan yang sama sekali tiada darah Indonesia ia punya. Ilmuwan asing yang tentu tak ada keuntungan baginya untuk mengatakan pada dunia bahwa negeri kita adalah surga dunia sesungguhnya yang kerap diperbincangkan dalam ceritera rakyat antar bangsa. Prof Arysio Santos, begitulah nama ilmuwan geologi dan fisika nuklir berdarah Brasil ini, telah mengungkapkan pada dunia bahwa di sini, di negeri khatulistiwa ini pernah berdiri sebuah peradaban besar, peradaban Atlantis yang melegenda, induk dari peradaban bangsa-bangsa di dunia.

Sungguh, prof Arysio santos pun tak mengada. Ia korbankan kurun waktu 30 tahun untuk meneliti lokasi sebenarnya dari benua yang hilang tersebut, benua Atlantis.
Berbekal kepakarannya dalam ranah geologi dan fisika nuklir disertai pengetahuannya yang luar biasa tentang ceritera yang termaktub di berbagai kitab suci dari seluruh bangsa, sang Profesor menegaskan bahwa lokasi sebenarnya benua Atlantis yang hilang tenggelam adalah di wilayah Timur Jauh, tepatnya tidak lain Indonesia.

Penegasan Prof Santos dalam bukunya tersebut tak pelak mematahkan klaim para peneliti terdahulunya. Di mana tak satupun terbersit dalam pikiran mereka bahwa di Timur Jauh, di Indonesia inilah tanda-tanda yang digambarkan Plato dalam rangkaian dialog di kedua bukunya, Timaeus dan Critias, sangat berkesuaian. Menurut Profesor, klaim situs Atlantis lainnya di luar wilayah timur jauh ini terkesan sangat dipaksakan. Fakta geologis maupun temuan artefak arkeologis sama sekali tak mendukung untuk dijadikan hujjah sebagai lokasi tenggelamnya benua Atlantis. Maka klaim lokasi Atlantis di wilayah Kuba dan perairan Karibia; Kreta Cyprus, Malta dan lokasi mediratenia lainnya; paparan Celtic, Maroko, dan Tartessos; Antartika dan Samudra Arktik kesemuanya berani ia tolak.

Keberaniannya tak hanya berdasar dari kepakarannya, namun ia ternyata pula sangat luas khazanah pengetahuannya tentang tradisi-tradisi antar bangsa yang menurutnya menceritakan satu peristiwa yang sama. Ditambah lagi pengetahuannya yang luar biasa tentang Bahasa Sansekerta dan Dravida (bahasa kuno bangsa Indonesia dan India) yang menurutnya lagi adalah bahasa asli bangsa Atlantis. Banyak istilah yang berkenaan dengan atlantologi bersumber pada dua bahasa tersebut. Salah satunya atlantis. Atlantis tersusun dari kata “atta” dan “ala”. Yang pertama bermakna daratan yang luas / benua, yang kedua bermakna tenggelam.

Satu hal yang menarik untuk digarisbawahi dalam buku ini adalah bahwa semua peradaban di muka bumi ini bersumber dari peradaban Atlantis ini. Terhitung dari peradaban Mesopotamia, Babilonia (mesir); Yunani; Romawi; Suku Maya, Inca dan Aztec (meksiko) hatta pasca renaissan pun tak bisa dipungkiri merupakan hasil sebarannya. Ragam bahasa, olah teknologi (terutama cocok tanam), ceritera legenda maupun mitologi pun tak lepas dari pengaruh hasil difusi dari kebudayaan Atlantis yang tenggelam. Statemen ini berdasar dari keternyataan bahwa ragam kebudayaan yang ada di muka bumi ini memiliki satu keserupaan.

Mari kita tengok satu contoh kasus. Kuil Suku Maya yang kesohor ternyata memiliki kemiripan yang nyaris sempurna dengan Candi Sukuh yang ada di Jawa Tengah. Piramida pun begitu –meski tak benar-benar sama-. Kuil Maya, Candi Sukuh maupun Piramida Mesir tak lain adalah replikasi dari bentuk sebuah gunung (tepatnya gunung berapi). Bukankah mesir tak memiliki gunung?! Lantas dari manakah inspirasi sang arsitek Piramida bila tidak dari negeri yang kaya akan gunung. Tentu dunia mengakui bahwa di indonesialah tempat bertaburannya gunung berapi, wilayah Indonesia kesohor sebagai zona sabuk api. Dari sinilah satu bukti bahwa sang inspirator, sang kreator yang membangun peradaban mesir dan lainnya adalah sisa bangsa Atlantis yang selamat berdifusi eksodus dari negerinya yang terlanda musibah bah semesta.

Akhirnya, dari buku setebal 670-an halaman yang sarat akan pembahasan dari literatur-literatur kuno baik kisah hasil petualangan para penjelajah legendaris kuno maupun peta kuno beserta gambaran geografis benua atlantis kita bisa meneguhkan kembali bahwa tak salah mbah buyut kita mengklaim negeri ini dengan ungkapan gemah ripah loh jinawi. Subur, makmur, sejahtera dan jaya. Semoga mata kita ini yang telah lama terpejam (atau sengaja dipejamkan) karena keterpurukan (dan dipurukkan) segera membelalak kembali. Nyala nyali jiwa kita yang bertahun-tahun melemah semoga bersuar kembali. Mari kita kenali dan gali kembali riwayat lampau mbah buyut kita. Kita adalah bangsa besar. Bangsa yang melahirkan peradaban bangsa lainnya. Kita adalah pemilik silsilah tertua dari kekerabatan umat manusia. Kenyataan pengetahuan ini sengaja dikaburkan dan dinafikan (terutama oleh bangsa barat) hanya untuk membodohi kita. Hatta bila kita merasa bodoh dan rendah diri maka mereka pun bisa menganeksasi kekayaan kita yang kesohor sepanjang zaman.
Read More......

Mei 20, 2010

FENOMENOLOGI SYNDROME MISKIN


Jangan kau tanyakan tentang kemiskinan!! Membicarakan kemiskinan di negeri yang konon sesepuh negeri ini menarsiskannya sebagai surganya dunia ini, tak ubahnya meremah angin. Di negeri yang pernah didendangkan Koes Plus sebagai “…bukan lautan tapi kolam susu,,, tongkat kayu dan batu tumbuh tanaman…”, mempertanyakan kemiskinan seperti halnya merubah arah arus sungai. Ia sesuatu yang tak mudah disentuh dengan sekadar piranti pemahaman fisik. Di sini, kemiskinan seumpama kode-kode abstrak yang terpahat menjelajari sekujur dedinding Chichen Itza, kuil piramida peningalan suku maya. Ironi kemiskinannya sama sulit dipahaminya dengan aksara hierogliph (aksara paku) hamurabi babilonia kuno. Bahkan kemiskinan di negeri Indonesia ini setakkasatmatanya dengan eksistensi pola gerak energi prana yang terinisiasi oleh sang praktisi, meski sungguh sebenarnya ia menggeliat ada di balik ketakkasatmataannya. Keberadaannya absurd untuk dicerna. Ia simbol wujuuduhu kaadaamihi, adaamuhu kawujuudihi. Ke-ada-annya tak murni ada. Nisbinyapun tak benar-benar tiada.

Jangan lagi kau tanyakan tentang kemiskinan!! Aku tak sanggup untuk menjelaskannya. Bukan aku tak tahu apa itu miskin. Justru aku malah sungguh mengenali apa itu miskin. Sehari-hari Ia selalu dekat padaku dan tak pernah mau jauh dariku. Hubunganku dengannya terjalin sangat mesra dan intim. Kadang pada titik-titik tertentu kita pernah mengalami pencapaian hubungan setinggi level harmonis. Mungkin kalau diperkenan, hubungan ini tak ubahnya sekelas visi hubungan yang selalu diidamkan setiap orang, sakinah mawaddah wa rahmah, begitu Al Quran mengistilahkan. Namun ironisnya, kedekatan itu masih juga belum mampu memberikan sebentuk pemahaman yang utuh padaku tentang apa itu miskin. Miskin bagiku tak ubahnya hidung di haluan wajahku. Ia tiada berjarak dariku. Ia tak akan pernah kutahu entitasnya jika kutak pernah berusaha mencoba memperdekatkan jarak pandang mataku padanya. Eksistensinya mengada jika kurehatkan sejenak mataku dari cakupan jauh pandang mata. Ia akan selalu niskala jika ekor mataku enggan berhenti mengibaskan pandangan pada ambang batas kapasitas jangkauan pandang mataku. Hidung pun hanya akan menampakkan sebagian dari sisi tubuhnya bila kujamah ia melalui salah satu dari sepasang mataku. Jika sepasang mata ini pun kukerahkan juga untuk menatapnya, maka yang ada adalah kebiasan. Hidung membias dari pandang mata. Membias di antara ada dan tiada. Miskin seumpama Hidung, dekat tapi pekat.

Sekali lagi kukatakan, jangan tanya teorema miskin!! Aku tak punya referensi yang akurat untuk itu. Memang beberapa sumber pijakan linguistik baik secara epistimologis maupun morfologisnya pernah kutemukan membicarakan miskin. Tapi, Beragam referensi yang ada hanya mampu beretorika di sebatas ranah sampul. Uraiannya belum mengupas sisi terdalam dari sebuah miskin. Hakikat miskin sampai saat ini masih terdapat di alam uninong uning unong, begitu tutur sang pendaki kemakrifatan jawa. Ia ada di antara ketidakadaan pengetahuanku tentang ke-ada-annya. Ia bersemayam di kesenyapan. Ia memeram diam kediriannya di atas onar orang-orang ribut memperdebatkan teori sejatinya. Sampai saat ini belum ditemukan titik kesepakatan dan kesepahaman tentang miskin. Rumusan yang tepat benar-benar mengabur. Konsep lughatan atau istilahan-nya benar-benar majhul. Ia tak bisa terjamah dari sekadar rumusan asumsi akademisi.

Berhentilah menanyakan kata miskin!! Cukuplah engkau sebatas tahu miskin seperlunya. Kau akan terjebak pada pusingan kebingungan bila kau masih saja berkutat terus menerus pada tataran tematik. Miskin tak cukup dikenali melalui kacamata teks. Ia mesti pula digali secara konteks. Miskin selama ini hanya diformulasikan pada kenyataan fisik. Padahal sejati penampakan fisik tak melulu mencerminkan realitas sebenarnya dari sebuah substansi. Realitas lahiriah kemiskinan sampai saat ini justru lebih banyak mengemuka sebagai kamuflase. Sesekali ia nampak kelihatan, tapi sejenak pula ia tenggelam dari pandangan.

Sudahlah, tak usah kau tanyakan itu lagi!! Bisakah kau menjamin kelebatan orang yang penuh dengan atribut dan simbol kemiskinan adalah sebenar-benarnya objek kemiskinan yang selama ini kita cari?! Atau bilakah ia enggan melegalkan asesoris miskin pada tubuhnya sebagai identitas kemiskinan juga adalah memang benar-benar bukan subjek miskin?! Atau bisa juga ada kemungkinan lain, beberapa oknum yang secara lahir sangat jauh dari kepantasan menyandang predikat miskin juga terbebas dari sindrom kemiskinan?!

Cukup! Tak perlu kau pertanyakan itu lagi!! Karena sampai detik ini, aku pun tak pernah habis berpikir. Oknum yang secara audit metematis bukanlah lagi pantas disebut sekumpulan orang dengan kemampuan finansial nol koma sekian rupiah. Oknum yang secara mata lahir adalah segerombolan orang dengan perbendaharaan rupiah melimpah. Ya, oknum-oknum inilah yang saban hari di setiap pentas siklus kepemimpinan pemerintahan kami tiada henti-hnetinya mempertontonkan tabiat kemiskinan yang mengurat. Kemasan perlente penampilannya tak memberi jaminan bahwa mereka merdeka dari rongrongan mental miskin. Properti yang mereka miliki hanyalah menjadi legalitas artifisial untuk mengelabui bahwa mereka sebenarnya miskin. Tengoklah, berapa duit yang mereka util dari kas dan jalur yang tak selayaknya. Berapa ribu nol rupiahkah yang mereka rampok hanya sekadar memenuhi nafsu mental miskinnya yang sejatining raga tiada sesiapalah ia orang miskin. Berapa banyak sindikasi korupsi oleh begundal-begundal “white collar” yang mengurat mengulat. Betapa ironisnya, sungguh materi berlimpah yang meningkahi kehidupan mereka sehari-hari ternyata tak cukup membuat mereka merasa berada. Keberadaaan materi yang selalu tersedia ternyata tak mampu memungkasi naluri miskin mereka. Sebenarnya, sejatining rasa, mereka adalah miskin sebenar-benarnya. Bedanya, mental miskin mereka berkedok dan terjebak dalam wadag raga kaya.

Lagi-lagi, jangan pernah lagi kau tanyakan itu lagi!!. Hanya penat yang kau dapat bila hanya berputar-putar sia-sia meributkan miskin. Bila kau ada sesempat waktu, cobalah sesekali berbaur, atau bila perlu menyemplunglah ke dalam komisi amil zakat ad hoc yang biasa muncul dan tersebar merata di belahan lingkungan mana saja saat idul adha menjelang. Komisi “kagetan” inilah yang membidani lintasan distribusi vertikal harta dari si berharta menuju si miskin. Cobalah diingat-ingat momen idul adha yang baru saja berselang. Amatilah saat timing pendistribusian yang berlangsung. Adakah semuanya benar-benar miskin?! Apakah himpitan kemiskinan jualah yang mendorong mereka berkerumun berebut jatah harta yang memang hak mereka?! Jika memang mereka benar-benar tercekik tangan seram miskin, adakah mereka mengambil sesuai dengan jumlah jatah hak mereka?! Bukankah kesempatan untuk memanipulasi jumlah jatah yang diperuntukan untuk mereka mudah dimanipulasi?! Bukankah tak sedikit pula beberapa oknum yang terendus dan teringkus menggunakan jumlah jatah melebihi jumlah hak yang seharusnya mereka terima?! Tidakkah mereka telah menyerobot hak orang miskin lainnya yang tiada kebagian mendapatkan hak jatah mereka?!.

Belum tuntas persoalan sang miskin diketengahkan, kita pula dibuat tergeleng-geleng dengan tingkah sang empunya harta kurban. Kurban yang telah diritualkan tak murni berangkat dari kerelaan jiwa. Sebelum hewan kurban di-”eksekusi”, beberapa bagian favorit dari badan hewan telah disepakati bersama untuk disisihkan sebagai hak otonomi penuh dari si empunya kurban. Sebelum harta kurban didistribusikan, daging pilihan dari beberapa anggota badan si hewan telah menjadi hak milik kembali dari peng-kurban. Ekstrimnya lagi, modus ini sudah termaktub dalam MoU (Memorandum of Understanding) antara si pengkurban dengan tim komisi.

Belum pula kita selesai bernapas sejenak, kita pun dibuat tersedak oleh ulah komisi. Tahukah anda justru di sinilah, letak sentral terparah terselenggaranya tingkah mental miskin. Jangan kaget bila kau melihat beberapa oknum komisi saling berebut jatah bagian teristimewa dari properti kurban. Sudah lumrah bila mereka di samping mendapatkan jatah lebih besar dari jatah kaum miskin sebenarnya, mereka tak segan dan sungkan berebut bagian kepala –bagian yang cenderung memiliki nilai ekonomis yang tinggi-- . memang jatah yang mereka dapatkan absah secara yuridis agama. Hak mereka memang termaktub jelas dalam dalil kitab. Namun, persentase kelayakan menerima jatah jauh melampaui jumlah jatah sebenarnya. Bahkan sebelum momen pendistribusian digelar, aksi util tanpa sepengetahuan anggota komisi yang lain tergelar, meski kadang dengan wajah innocent mereka tak risih menampakkannya di tengah anggota lainnya.Betapa kokohnya pilar mental miskin di relung jiwanya.

Sudahlah, sudah. Berhentilah kau mempertanyakan hal itu lagi!! Sobat, teorema miskin adalah teorema relativitas yang tiada terukur dengan angka-angka pasti. Kmiskinan sejatinya bukan hanya berada dalam ranah nominal harta. Jauh dari itu, kemiskinan berhulu dari kebersahajaan jiwa. Kemiskinan yang hakiki tiada pernah bisa diterjemahkan dengan perangkat akademis yang selalu berpedoman pada suatu sistem metodologi tertentu yang rumit, kaku nan berliku. Kemiskinan sejati hanya bisa dijangkau melalui interpretasi jiwa. Miskin adalah persoalan jiwa yang berpijak pada seberapa qonaah dan bersyukurnya kita terhadap kenyataan kesempatan kepemilikan kita terhadap harta. Miskin bukanlah takdir baku jalan kita, melainkan sebuah pilihan jiwa. Konglomerat bisa selalu bermental melarat jika cita rasa syukurnya telah lama sekarat. Si miskin papa pun akan senantiasa hidup dalm keberlimpahan cita sentausa bila defisitnya harta tak mampu mengusik qonaah-nya jiwa.

(Selamat hari Anti korupsi 9/12)
Say NO to Corrupt!!,,,. Don’t Judge Other. Start first From and By Ourselves!!...
Read More......

TRAGEDI SEPI??


knp y prbncangan hari2 ini kok bnyak yg mrasa sepi. tak satu dua yg qtemui yg trlontar psti sepi. tulisan pun trbaca sepi. mski tuts2 gemeletak brbunyi, yg trkirim pun sinyal sepi. apakah sepi itu pilihan ato,, kiriman(Nya)?! klo mang pilhan, sepikah yg memilih qt, atokh qt yg memilih (me) sepi?! klo mang sepi memilih qt, brrti qt sndirilah yg tlh mncipta lingkaran medan magnet hngga energi sepi trsedot dlm pusaran dn menikam qt. klo qt yg mmilih sepi. tntu ada klebihan riuh dlm diri ini yg merindu sepi. riuh bisa hadir dr ktakseimbangan emosi yg saling mencarut yg qt sndri pun tak mmpu menguraix kmbali dn qt pun trhanyut d keruhx. bila sepi mang kiriman, bisakh qt mnghibur sepi ato qt yg trhibur sepi?!.. mang ada sih yg mmpu mnerima sepi dg sukacita hngga ia pun mrasa ada keriuhan dlm sepi. ada pula yg mrasa excited dg sepi. bagix sepi adalh santapan brgizi. sehari tnpa (ber) sepi bak dehidrasi. wajah kuyu pucat pasi, urat melunglai tak mmpu mmbopong telulang. bhkan dlm kasus trtentu ada yg tlh mncapai maqom addicted sepi. lupa knsumsi sepi, kejang2 pasti. ruh tak ubahnya mau lepas dr ubun2. hmm,, sepi, sepi.
semoga ini bkn epidemik sepi. hngga q pun turut trinjeksi trinfeksi sepi.
sepi.. sepi.. sepi..
Read More......