Februari 08, 2012

Reruntuhan Cahaya



Cahaya runtuh tadi malam di atas sajadah

Cerlang terserak timpa muka hamba

Silau mata terserap ubun lepuhkan peluh, luka

"Sungguh bila kau berhenti berjarak padaKu

pilarKu senantiasa kokoh di hatimu!!.."


Cahaya runtuh tadi malam di pangkuan

Sejuk dalam selubung pijar terik kilauan

Gita asmaMu yang kelu terucap menggaung cipta

"Jangan cemburui Aku dengan persembahanmu

tanpa nafas asmaKU basah di lidahmu!!.."



Cahaya runtuh tadi malam di altar hatiku

Menyerpih tak terperi menajam hunjam ulu

Senyap terendap sekejap tak kuasa mengucap

"Bukankah Aku selalu bersamamu

mengapa kamu tak merasakan kehadiranKu!!.."



Cahaya runtuh tadi malam di ufuk jiwa

Rubuh hingga subuh berlabuh

Aadakah Kau masih sisakan perisai cahya?..

"Jika saja Aku berkehendak, Ku-nihilkan cahaya

hanguslah dirimu dalam gelap!!.."
Read More......

Ibrahim Pun Pernah Ditegur



suatu ketika, seperti biasa, Nabi Ibrahim mencari seseorang yang bisa diajaknya makan bersama. memang begitulah kebiasaan "Eyang" Nabi Muhammad ini. Ia takkan pernah bisa makan tanpa ada orang yang bisa diajaknya makan serta.


Sibuk Ia mencari. tergopoh-gopoh. luar biasa hasrat pencariaannya, bak orang yang mencari sesuatau miliknya yyang telah terhilang dari dirinya. Masih saja Ia terus mencari. Tak kunjung jua Ia menemukannya. Peluh pun tak terasa membasahi tubuhnya. hingga sampailah Ia pada sudut sebuah pasar. dijumpainyalah seorang tua, kurus, dekil, terduduk di atas tanah. pucat air mukanya, tanda betapa lapar telah lama mengular dalam perutnya. compang camping pakaiannya yeng melilit tubuhnya, tak karuan, orang pun mungkin sudah enggan menatapnya, walau barang sejenak. "pak, sudikah bapak makan bersamaku di kedai itu?", tanya Ibrhaim sopan penuh takzim.



ternampaklah binar mata. Berkilat-kilat mata itu, betapa bahagianya orang tua itu. segeralah ia bangkit tanpa bersuara, seolah-olah limpah kebahagiaannya menelan lidahnya hingga tak bisa melahirkan suara.



Ibrahim pun membimbing berjalan orang tua ringkih itu. menggamit tangannya dan memandu tubuh yang sepertinya tak mampu lagi disangga oleh pemilik tubuh itu sendiri. tibalah mereka berdua pada kedai ramai itu. segera Ibrahim memesan makanan terenak yang ada di kedai itu. setelah makanan terhidang di atas meja keduanya, nampaklah lembaran lembut asap putih menyembul keluar dari makanan itu. "Duhai betapa nikmatnya makanan ini", pikir orang tua itu. Lidahnya seperti sudah tak sabar segera mencicipi lezatnya makanan itu. berkali-kali ludahnya ia telan sendiri, hanya karena tak kuasa menahan dahsyatnya lapar. Orang tua itu pun sudah hampir mendekati puncak hasratnya, namun tiba-tiba Ibrahim bersuara, "kalau boleh tahu agama apa yang bapak anut?". "Majusi..", ucap orang tua polos.



terkejutlah Ibrahim. berubahlah raut muka Ibrahim. segera Ia berdiri, lari keluar meninggalkan orang tua itu dan menjauh dari kedai. menghilang di ujung jalan. tak pernah kembali lagi.



Sungguh betapa malunya orang tua itu. ia ditinggal sendirian. bengong. tak tahu harus apa. makanan telah tersaji di depannya, namun si "pentraktir asing" telah lari meninggalkannya tanpa mengerti maksudnya. ia bingung mau diapakan makanan di depannya, sedang iapun tiada sekeping uang dimilikinya. ia merasa tersudut keadaan. ia merasa dipermainkan Ibrahim. ia telah ditipu, pikirnya. terbitlah bulir airmata di ekor matanya. namun jerit hatinya tiada yang bisa mendengarnya.



Seketika datanglah suara keras membahana di telinga Ibrahim, " Ibrahim! tahukah engkau, meski manusia yang telah Ku-ciptakan dari tangan-Ku sendiri ini telah membangkang dari titah-Ku, tapi aku masih tetap memberinya makan!.. tahukah engkau, walau mereka terang-terangan dengan jelas di mata-Ku mengkhianati sumpahnya pada-Ku, takkan berkurang sedikitpun kasih-Ku padanya. Tahukah engkau, apa yang telah kau perbuat?!.. betapa sempitnya hatimu wahai Ibrahim!!".



tersungkurlah Ibrahim. menangis tersedu. tersadarlah Ia dengan apa yang telah ia perbuat. segera Ia kembali ke kedai di mana telah ditinggalkannya orang tua lapar tadi. namun, tak dijumpainya di sana. bertambah sedihnya Ibrahim. Ia pun terus mencari dan mencari. takkan pulang Ia sebelum benar-benar bisa ditemuinya orang tua itu. tiada henti-hentinya Ibrahim mencari hingga tepi langit barat telah memerah senja, orang tua itupun berhasil ditemui. menghamburlah Ibrahim menuju orng tua itu. diciumi tangannya meminta maaf. dipeluklah tubuh kotor bau itu. bahkan Ibrahim pun menyuapinya makan.



. . . . .





semoga kita tidak menduplikasi teguran Allah pada Ibrahim. Siapapun kita, kita adalah manusia yang membawa misi rahmatan lil'alamin. kasih bagi semesta. bukan sekadar kasih pada kelompok sendiri. Kita boleh beda, tapi cinta harus tetap ada. kita boleh berbeda pendapat dengan golongan lain tapi sampaikanlah dengan cinta.



apakah cintamu karena merasa sama?

apakah bencimu karena merasa beda?

cintailah tanpa melihat kesamaan dan perbedaan!

karena, inna arsalnaka rahmatan lil'alamin..


Read More......

Rendah Hatilah Selalu



Yang lebih tua dari kita : "Dia pasti lebih baik dari kita, karena kesempatan dan peluang berbuat baik lebih banyak daripada kita"

Yang lebih muda dari kita : "Dia Pasti Lebih baik dari kita, karena kesempatan dan peluang bermaksiat lebih sedikit daripada kita"

. . .

Mereka yang lebih pandai dari kita : "Mereka pasti lebih baik dari kita. Mereka beribadah berlandaskan keluasan dan kedalaman ilmunya. Tidak taklid"

Mereka yang lebih bodoh dari kita : "Pasti mereka lebih baik pula dari kita. Mereka bermaksiat hanya karena ketidaktahuannya"

. . .

Yang kaya melebihi kita : "Tentu mereka lebih baik dari kita. Mereka lebih banyak bersedekah daripada kita dengan kelimpahan hartanya"

Yang miskin melebihi kita : "Tentu mereka lebih baik dari kita. Mereka lebih tebal kesabarannya daripada kita dengan kemiskinannya"

. . .

Yang lebih sempurna fisiknya dari kita : "Kita yakin mereka lebih baik dari kita. Kesempurnaan fisiknya mengantarkan mereka lebih meruah rasa syukurnya daripada kita"

Yang invalid fisiknya melebihi kita : "Lagi-lagi kita yakin mereka lebih baik dari kita. Kekurangan fisiknya tidak sedikitpun membuatnya dirinya bersedih. Mereka rela dengan ketentuanNya. Ridhonya lebih luas daripada kita"





//tiada alasan untuk tinggi hati//
Read More......

Kehendak Tunggal



Keimanan adalah hadiah. Bukan bonus imbal budi karena jerih usahamu apatah lagi suap dariNya demi meraih simpati makhlukNya. ia murni hadiah dariNya. maka, bagi mereka yang telah bersarang iman dalam hatinya sungguh ia telah mendapatkan anugerah tebesar yang tiada tara nilainya. wadzalika huwal fadhlul 'adhim.


Keimanan sebagai hadiah adalah pula dinamika hati yang mesti harus senantiasa dipupuk dan dierami. sebagaimana pohon, ia mula sebiji benih yang mengada melembaga dalam jantung bumi, sendiri, hadir binafsihi dengan tanpa persetujuan kehendakmu. Ia memunculkan eksistensi dirinya hanya lantaran sami'na wa atho'na pada titah. baginya kepatuhan tunggal pada Empu Titah adalah denyut pertamanya saat mereguk aroma tanah. Ada titah agung yang menghunjamkan dirinya di kedalaman tanah.



Begitulah iman, ia pun hadir menerobos hatimu sejatinya bukan lantaran dirimu. Keimananmu bukan karena engkau memiliki potensi kebaikan melebihi yang orang lain punya. Keberadaan iman dalam relung hatimu semata-mata adalah betapa cintaNya Dia padamu dengan tanpa melihat siapa dirimu. Kucuran cintaNya tak pernah menunggu persetujuanmu maupun penolakanmu. Indah iradahNya mutlak hak prerogatif Dia. Dia tak butuh motivasi dan inspirasi makhluk untuk sekadar memercikkan bulir-bulir air dari samudra cintaNya padamu. Bahkan walau kau pun berkeras meminta dalam serangkaian doa, bila Dia belum bersedia membuka kranNya untukmu maka tak setetes pun jatuh dalam rentangan tanganmu.



Begitu pula bila Dia menenggelamkan dirimu dalam indah cintaNya bukan berarti Dia telah menyepakati iktikad doamu. IradahNya sama sekali tidak pernah terikat denganmu maupun pintamu. Dia tak pernah melibatkan intervensi makhluk untuk berafiliasi denganNya hingga menelurkan keputusan bersama. Hal ini bukan berarti lantas Ia mengingkari sifatNya yg mujibud du'a' atau lebih lebih mengkhianati proklamasi janjiNya; ujiibud daa'i idza da'anii (Aku, pasti mengabulkan doa hamba yg brdoa kepadaKu).



Kebaikan pemberianNya mutlak kehendak tunggalNya. bukan karena arahan kamu. Ia berlepas diri dari dikte makhluk. Ia berkehendak sekehendak DiriNya. Pemberiannya mengalir bukan karena sedu doamu. Namun, independensi Dia atas intervensi doa makhlukNya jangan sampai lantas membuatmu jera,dan berhenti berdoa. berdoalah, senantiasalah tetap berdoa, karena hal ini merupakan sebentuk afirmasi ta'abbudiahmu (kehambaanmu) pd Dia Sang Poros Tunggal Ubudiahmu.


Read More......

Keep Silent



Bila kau mmpu menyimpan rahasia aibmu hnya truntuk Dia,

Dia psti mmbeberkan rahsia indahNya untkmu seorang.

. . . .
Brbisiklah pd Dia. Hnya Dia Sang Trpercaya Agung.

brbisiklah pdNya. Tak prlu kau berlelah mengiba pd selainNya.

bisikkanlah slalu pd Dia. Dialah Sang Maha Pendengar trbaik.

Tak perlulah lg kau mrengek mminta pdNya. Dia teramat Tahu masalahmu. Dia memberimu tanpa kau pinta. Pemberiannya pun selalu mendahului bersitan dalam pikiranmu.

. . . .

faf'al bina ya maulana kama tuhibb..
Read More......

Adalah Cinta SinggasanaNya



Bagaimana mungkin kau bisa menghadirkan cintaNya bila singgasana cintaNya tak kau persiapkan dalam hatimu?..

Bagaimana mungkin Dia kan singgah dalam pendapa hatimu bila panji-panji dan penjor cinta tak jua kau pancangkan sepanjang selasar hatimu?..


Ketahuilah sang pencari sunyi, tak usahlah kau berlelah-lelah mencari Dia. Dia ada di sini. Ya, di sini.

hanya saja kau perlu menyiapkan singganasananya, karena Dia hanya bersemayam dalam hati

yang penuh rona warna bunga cinta.



Berhentilah berpayah-payah menunggu kabar kedatangannya mengetuk pintu bilikmu, karena Dia pun tak pula jejakkan keanggunanNya selain di atas permadani cinta yang terhampar sepanjang selasar hati.



Urungkan saja niatmu mengundang kehadiranNya, karena tak sekalipun Dia menunjukkan wajah indahNya pada dirimu

selama belum ada cermin cinta dalam hatimu yang mampu menangkap bayang agung cintaNya.



panggil Dia dengan harum napas cinta.

seru Dia dalam lafaz-lafaz cinta.

sambut Dia dengan berkalung-kalung bunga cinta.



Bila kau menanggalkan cinta dalam hatimu, sungguh kau telah melucuti singgasanaNya.

Bila kau ingin senantiasa ada dirimu dalam cintaNya, senantiasakanlah ada cinta dalam hatimu.



. . . . .



[inspired : irhamu man fil ardh. yarhamkum man fis sama' (HR. Bukhari):

cintailah semua yang di bumi, niscaya semua yang di langit mencintaimu]
Read More......