Februari 08, 2012

Keternyataan Kenyataan Pancasila Kita Hari Ini



PANCASILA



1. Kesetanan yang Maha Perkasa.

2. Kebinatangan yang degil dan biadab.

3. Perseteruan Indonesia.

4. Kekuasaan yang dipimpin nikmat kepentingan dalam perkerabatan / perkawanan.

5. Kelaliman sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.




hmm.. percaya ato tidak. silakan. boleh terima apa tidak, monggo. inilah kenyataan prilaku ulil amri qt. sprtinya udah kelu bibir ini tuk terus menghitung dagelan2 prilaku mereka. klo anda blm prcaya dg kt2q, coba sbutkn satu aja instansi pemerintah yg msh km anggap "masuk akal" dn brmoral. psti aq mmpiu jlentrehkn smuax pdmu!!.. dagelan2 itu sbnrx gk prlu dianalisa trllu dalm. apalagi diinvestigasi. dagelan2 itu amat terbuka. terhidang d dpn qt. qt sprti sdang sllu dsuguhkn "ketropak humor" tiap hari. heranx ketawa yg kluar dr selangkangan rahangq adalah derai airmata. sensasi humor yg brkolong d benakq adalah kegeraman yg tertahan. ya! dagelan ini memiliki daya humor yg aneh. tdk ada tawa. sirna sinar binar mata. yg tersisa adalh eraman geram.



mata rantai perkongsian ranah hukum. anda mesti tw wilayah apa ini?!.. jgn salah sangka -dn sbnrx mmang gk prlu dprasangkai lg- negeri qt ini adalh penganut sejati liberalisme kapitalistik! ndak usahlah bicara pasar konvensional. itu dah wajar normal. tp tengoklah "supermarket" hukum qt! engkau psti mmpu dg mudah menemukn produk2 dr korporat liberalisme kapitalistik yg trtata rapi d etalase dn rak2x. engkau bisa jalan2 mejeng dalam "supermall" hukum qt ini dg hanya mengibaskn2kn duitmu maka apapun yg kau pinta terpenuhi. ya bgitulh ranah hukum qt, tlh "dilempar" k pasar. dn memang kawasan ini sangat potensial untuk itu. wilayah ini dg tanpa qt sadari (tp mereka dg kesadaran diri loh!!) dikuasai pemilik modal besar. sapa yg punya kapital dialh pemilik hukum ssungguhnya. hukum qt sangat sensitif trhadap stimulasi duit. dia budeg atas keadilan. tuli trhdp kemnusiaan. ompong demi kepentingan. gagu krna fulus sukses mrayu. picek. lumpuh.



ini baru dari satu lini pemerintahan qt kawan. blm ku kuliti lg yg lain. buanyaakk!!.. aq sndiri capek jg. coba liat kasus gayus! apa akhirx yg mereka usut dlu?.. apa yg mereka vonis dlu?.. bukankh sbnrx msti yg diungkap dahulu adalah mafia prpajakan!.. eh kok malah muter2 ndak karu2an. sprti ada yg sdang dtutup2i dn dkaburkn. dasar!! slalu bgtu. yg bikin mual dn mangkel lg, bila engkau msh ingat, saat msh proses kasus pajak, dg tanpa malu d jakarta sono ada "panggilan hati" dr pemerintah DKI untk memberlakukn pungutan pajak atas warteg. uffhh!!..



blm tuntas smpurna kasus gayus, lagi lagi jurus lama dkeluarkn. dn ini sdh berulangkali. saat kasus besar mmojokkn mreka, dpastikn mreka menerapkn strategi ini. aq ketawa ngeliatx. sllu ketawa (tntu msh smbil bergemeltak geram gigiq). ya, aq ndak prnh prcaya sedari awal munculx isu ini. heheh.. tiba2 aparat qt sibuk menggerebek menangkap sjumlah org yg menurut kamus mreka teroris. hmmm,, coba diingat2 lg kawan, sudah brpa kali opini seragam ini dipakai. ah sudah!!. sudah!!. capek!!.



aq teringat dg kata2 Sabrang Damar Mowo Panuluh bin caknun ato biasa qt kenal Noe, vokalis Letto:

...Hari ini Indonesia bukan lagi “Merdeka atau mati !”

Hari ini Indonesia adalah “Berubah atau punah !”...
Read More......

Getar Suara Sang Matahari, KH. Idris Jauhari



sore itu, terrebah tubuh yang sepanjang rekam jejak kenanganku masih kuabadikan sosok figur yang kuat berkharisma. aku masih belum tuntas meredakan ketidakpercayaanku. ada dua tanda tanya besar dan tanda seru menyembul keluar, mengambang di atas kepalaku. semua gegarit ilmu, kabar berita tentang atau berasal dari beliau pasti segera aku mantapkan hati mempercayainya. tapi bila yang tersiar kabar bahwa beliau dibekap sakit, rasa-rasanya tidak ada sejengkal ruang dalam hatiku yang rela menerima kehadiran berita itu.


sosok beliau yang kukagumi memang telah menancapkan kesan dalam diriku sebagai sosok kuat. beliau tidak pernah mau berkompromi dengan "ilham tubuh" yang mengisyaratkan tubuhnya untuk istirahat. logika medis mesti beliau patahkan. beliau mampu mengatasi tubuhnya dengan segenap pertanda yang datang menghampirinya. beliau tidak pernah ramah dengan tamu-tamu "rasa sakit". aroma kedatangan mereka yang memang telah tercium bermil-mil jauhnya sudah mampu beliau kibas-kibaskan dengan kepingan hatinya yang teguh. hingga sekali mereka nampak ujung batang hidungnya, serta merta beliau mengusirnya. "aku tidak pernah mempersilahkan rasa sakit bertamu dalam diriku!! maka bila ia nampak jelas "merayuku" berusaha meyakinkan diriku untuk istirahat dari aktivitas yang menuntut kehadiranku maka kuserukan dengan seyakin-yakinnya bahwa, AKU TIDAK SAKIT!!, teriak beliau kala kuberkalang dedebu ilmu beliau.



kalau boleh mengandaikan. minimal aku diijinkan memakai teori millahnya Siddharta Gautama (dia tidak pernah mengklaim dirinya Tuhan). maka aku berani katakan, Umar ibnu al-Khattab telah bereinkarnasi ke dalam diri beliau. pribadinya tegas setegas umar. keras sekeras umar. disiplin sedisplin umar. berkemauan kuat sekuat umat. hampir tidak ada kepribadian umar yang berselisih dengan beliau. semua yang pernah meletakkan hatinya pada jejak pengajarannya akan sependapat dengan diriku. meski mngkin ada beberapa yang mendebat kengawuran argumenku. tidak apa-apalah. minimal aku mampu membantu menghadirkan kembali ingatan mereka, bukankah tumpahan ribuan santri dalam masjid mesti selalu berderet-deret rapi saat beliau meresonansikn ilmunya?!; tiada satupun mata sembab oleh kantuk kala beliau mengguratkan ilmunya di hati mereka di kala subuh yang dingin?!; bila beliau bergerak, sekurang-kurangnya terompahnya terdengar dari kejauhan maka lapanglah jalan itu, segan santri menjajari langkahnya menyusuri jalan yang sama; jalan depan kediaman beliaupun selalu dijadikan alternati terakhir santri untuk melintas. klo pun toh terpaksa, paling tidak mereka mengambil tepian terjauh dari mulut pintu halaman kediaman beliau. jangan harap ada selontaran suara riuh bila beliau berada di kelas menghadapi santri. suara dehemnya yang sampai duluan sebelum diri beliau muncul di ambang pintu kelas telah cukup mampu membuut seluruh isi kelas senyap. tiada yang menggerakkan mereka. selain kharisma terpancar yang meliputi diri beliau.



KH. Idris Jauhari, yang hanya tamatan KMI Gontor atau bila sekiranya pas dibandingkan dengan ukuran pendidikan formal umum, maka beliau hanya tamatan SMA. meski mungkin ada banyak orang yang salah kira bahwa ada dua kata berkait bersanding di belakang namanya; MA (magister of art, titel S2nya Timur Tengah). dengan kocaknya (walau sebenarnya beliau tidak "bakat" dengan ini dengan wajah kokohnya) beliau berkelakar, "MA saya adalah madura asli!". namun di balik kebersahajaan pendidikannya jangan tanya mengenai kedalaman ilmunya. bila orang belum pernah tahu beliau, pasti penilain diri mereka muncul mendahului diri mereka sendiri; kyahi Idris kayaknya tamatan pendidikan manajerial papan atas; sepertinya mantan Dirut di sebuah korporat berkelas; pasti beliau ini mutakharrij di sebuah jami'ah di timur tengah dg predikat mumtaz (klo boleh ditambah jiddan); bisa jadi, motivator spiritual kenamaan; lulusan terbaik AKABRI karena manna cumlaude kedisiplinannya.



sore itu, di depan kami, terrebah figur yang kami cintai. berita yang telah kutangkap tentang sakit beliau itu ternyata sampai saat ini masih belum mampu mengalahkan kekuatan beliau. aku tidak mendapati jejak-jejak rasa sakit dari raut muka beliau. raut wajah itu masih seperti dulu, kokoh. aura rupa beliau tak sedikitpun sanggup diredupkan oleh deraan siksa sakit. aura itu senantiasa bersinar. mungkin, yang bisa memaksa kebengalan pikiranku adalah selang infus yang tertancap di pergelangan tangan kanan beliau. hanya itu. sisanya, bagai menjenguk raja agung sedang rebah. itu saja. bila toh pun ada suara lirih terbatah dari mulut beliau itu tak lebih dari suara parau khas orang sedang rebah yang baru terjaga dari tidurnya. suara sepenggal-penggal itu tidak kuasa mereduksi ketegaran beliau.



hingga getar suara itu terdengar perlahan:



"aku tahu betapa sibuknya dan jauhnya kalian. namun kalian, anak-anakku, telah berbesar hati berlelah-lelah membawa serta cinta kalian, menghadirkan padaku di ruangan ini. aku ucapkan terima kasih...



sudah empat puluh tahun terhitung sejak tahun 1971 hingga sekarang aku telah membangun, membesarkan, memperjuangkan ma'had kita. dan aku sama sekali tidak pernah sakit selama itu...



bila mungkin menurut Allah hari-hariku di masa yang datang membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi ma'had, ummat, masyarakat, bangsa dan negara, maka aq pinta padaNya untuk sudi memberikan kesembuhan padaku.



tapi bila memang ternyata hari-hariku, masa depanku, tidak membawa dampak apa-apa, tidak mampu menghadirkan kebaikan dan kemanfaan bagi ummat, mayarakat, bangsa dan negara maka lebih baik bagiku memilih meminta padaNya untuk menjemput cintaku menemui diriNya. biarlah aku memohon agar Allah menghentikanku di sini. mencukupkan diriku sampai di titik ini..."



...

Ya Allah, jangan Engkau bergesa mencabut pijar sinar itu

kami masih membutuhkan terangnya

gelap di sini belumlah mengusai terterangi



Ya Allah, genapkan takdirnya

sebagaimana kami masih membutuhkannya

jangan genapkan gelap membekap



Ya Allah, benang-benang sinarMu

telah Engkau gulung satu persatu dari negeri gelap ini

akankah Engkau gulung serta satu yang tersisa

.....





*terima kasih pd saudara2ku yg berpayah2 brsama2 menjenguk beliau: FathorRozy "kepenk", Asy'ady Syahril, Kholid Mubarok, Eroqi Riyadi, Nururroman, Junaidi "kahin" :) and me too... :) bserta seluruh "putera matahari"*
Read More......

Transaksi Surga



Harum surga tak cukup mampu tercium hanya dari sekadar pahala hamba. Pahalaku, pahalamu, dan pahala mereka takkan pernah cukup mengantar diri kita ke surga. Bila surga bisa "dibeli" dengan pahala, maka istri2 Rasulullah tak mungkin bisa berkumpul di satu derajat surga yg sama. Jika surga bisa disuap dengan iming-iming pahala, maka mereka yg katanya qualified mustahil bermaqom surga yg sama dg Sang Baginda Rasul. Bukankah amal Rasul tak sebanding dg mereka?!.. Surga sejatinya adalah pengejawantahan rahmatNya. Bila masih saja ada klaim pahala atas surga, sungguh teramat sombonglah ia!!..


Berhentikah kita menyembahNya, bila ternyata pahala bukanlah ongkos utama membeli surga?..

ataukah, jika dan hanya jika, surga dan neraka tak pernah ada -atau jika aku diperkenankan berkata keduanya adlah mitologi dogma agama belaka- masihkah kita menyimpuh di "kaki"-Nya, menjilati "jemari"-Nya?..



lalu, atas nama apakah kita selama ini beribadah?!..

apa yg melelehkan mata kita dalam benaman sujud?!..

apa yg ada dalam pejaman mata saat nikmat dzikir?!..

ekstasi apa yg menggerakkan rotari kita?!..

duhai ada apakah di dalam lingkar peci putih dan selempangan anggun surban?!..

betapa menariknya kemasan pemberian kita, adakah Dia yg kita maksudkn?!..

sekadar hobikah atawa prestise picisan?!..



Ya Rabb,, hina dinanya aku.

sungguh bila bukan karena ibaMu

lebih mulia aku bila dedebu.



Anta maqsudi

wa ridhoKa matlubi
Read More......

Risalah Cinta



Pernikahan adalah ibadah. Sedang ibadah yg benar-benar diterima di sisi Allah adalah ibadah yg bnr2 berlandaskan keikhlasan. Selama pernikahan kita belum menyentuh esensi ikhlas, maka, belumlah pantas pernikahan kita disebut ibadah. Kita bisa dikata telah menciderai nilai luhur ibadah bila kita tidak menyertakan ikhlas dalam ritual pernikahan kita.


Tidak ada paksaan dalam pernikahan.Ttidak pula dilegalkan kepura-puraan. Beribadah harus murni berangkat dari hati. Begitu pula pernikahan. Ia harus berangkat dari hatimu. Bukan dari hatinya, bukan hati mereka. Tidak absah bila diberangkatkan dari hati orang lain yang sejatinya bukan hatimu. Pernikahan bukan persekongkolan keluarga demi harap tertentu. Pernikahan bukan pula untuk sekadar menakzimi hati orang tua yang selalu mengatasnamakan bakti orang tua.



Menikah adalah pengejawantahan dari kerelaan hati dari kedua belah pihak. Ttidak boleh tidak. Menikah harus berlandaskan "taraadhin", saling ridho saling rela. bila kerelaan ini belum dipenuhi maka tidak legallah ijab qobul itu, begitu menurut Imam Syafii. Bila tiada rela yang terhela di antara keduanya, maka gugurlah nilai ibadah nikah. Menikah adalah manifestasi dari didihan cinta di antara keduanya. Bila hati belum terdidihkan dengan bara cinta maka tidaklah konstitusional ritual ibadah kita.



Sungguh sangat rapuhlah bila ibadah dibangun dari bata kepura-puraan. Ibadah harus dihindarkan dari ketersengahan hati. Ibadah harus utuh bersinar dari suluh hati kita. Allah terlalu agung untuk dipersembahkan sepaket cinta yang sebenarnya tiada ruh ikhlas di dalamnya. Untuk menjumpai Tuhan, sungguh sangat tidak sopan bila berbusana kemunafikan.



Tragedi cinta Layla dan Majnun mengingatkan perenungan kita. Betapa kokohnya cinta keduanya hingga suatu saat terpisahkan dan dipisahkannyalah hati keduanya yang sebenarnya telah bersenyawa. Hati yang telah bersenyawa terpaksa dan dipaksa harus terpisahkan hanya karena betapa silaunya hati keluarga Layla pada bujukan materi pihak ketiga. Layla menikah dengan hati yang tiada seruangpun pernah singgah dalam hatinya. Layla menikah tanpa sertaan kerelaan hatinya. Ia menikah atas nama kepura-puraan. Sungguh betapa menderitanya Layla, saban hari selalu memperbaharui wajah kepura-puraannya. Sepanjang hari ia musti merias wajahnya dengan kosmetika hiprokisme. Dalam peraduan cintanya, ia memasung hasratnya. Ia menjaga jarak untuk tidak bisa disentuh oleh si penjajah cintanya. Namun bila ia keluar menjumpai orang sekitar, dikenakanlah topeng kebahagiaannya. Ia menyunggingkan senyum yang sejatinya tidak berbanding lurus dengan diagram hatinya. Layla terbenam dalam limbah kemunafikan demi keluarga.



sobatku, Rasulullah pun tiada pernah menganjurkan hegemoni kuasa kita terhadap cinta. Rasul selalu menekankan prinsip tawar pada sang pemilik hati itu. Siapapun dia meski ia berada di bawah kuasa kita. Orang tua harus menanggalkan superioritas keinginannya. Rasul memerintahkan para orang tua untuk memasrahkan putusan cinta itu dari lidah si empunya hati. Putusan itu harus berasal dari suaranya bukan dari kehendak tunggal orang tua. Maka, dalam sebuah riwayat hadisnya, bila ada pinangan, beliau menyuruh ummatnya untuk menanyai trlebih dahulu pada si putri tercinta. Bila ia menolak maka orang tua selayaknya berbesar hati. Bila hanya diam yang didapatkan, maka itulah persetujuannya. sukuutuha jawabuha..



Sobatku, bakti orang tua juga bernilai ibadah. Kemarahan orangtua adalah kemarahanNya, ridhonya tentu ridhoNya pula, begitu jamak kita tahu. Namun, birrul walidain tidak sama dengan itho'il walidain. Birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) mutlak dibebankan pada semua anak. Apapun kondisi orang tua hatta terburuk sekalipun kita harus menghormatinya. Walaa taqul lahuma 'uffin, jangan sekali-kali kamu berkata "uhf!" pada mereka. Tapi bila bicara itho'il walidain (kepatuhan pada orang tua), ada opsi di sana. Bahkan essay pun tersedia. Sepanjang orang tua berada di garis itho'illahi wa ithoirRosul (masih mematuhi Allah dan RasulNya) maka kita wajib mengikutinya. Namun bila koridor Allah dan RasulNya diterabas oleh mereka, maka kita diperkenankan tidak mengikuti mereka.



Oleh karenanya, percayakanlah pernikahanmu pada hatimu semata. Pasrahkanlah harmoni cintamu pada kerelaanmu. Perserahdirikanlah hidupmu pada keridhoanmu. Ridhomu adalah nilai intrinsik ibadahmu. Ia adalah esensi sejati hidupmu. sungguh, bila napas, detak jantung, gesture, gerak, sikap, prilaku, tingkah dan segala rancak peristiwa tidak didasarkan pada ridho kita, maka sungguh kita telah menjauhkan diri kita dari harum surga.



Sobatku, surgaNya hanya bisa didiami oleh mereka yang ridho. Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ila robbiki rodhiatan mardhiah, wahai jiwa yang tenang kembalilah pada Tuhanmu dengan RIDHO dan diRIDHOi. bagi hati yang belum ridho, tiada jalan baginya menuju surga. Sang Malaikat Pintu Surgapun bernama RIDWAN, yang -penuh- keRIDHOan.



Sobatku, hanya semata-mata demi keRIDHOanmu dan RIDHO Allah dan RasulNyalah kau menikah.

Semoga kau temukan dia yang melapangkan ridhomu...


Read More......

Sukses Adalah Kunci Kebahagiaan??



Sobat, sukses saban hari menjejakkan dirinya dalam angan kita. namun, hingga saat ini kita pun tak pernah mengerti wajah dan identitas asli si sukses itu. Kita secara sadar bergelut tiada hentinya demi sekadar mampu menyentuh wajah sukses. namun sampai kinipun kita juga tak mampu mamaknai apa itu sukses sebenarnya. Wajah sukses kian membias saat kita telah begitu dekat dengannya. Bahkan saat ia berada seperinchi dari wajah kita, persis di depan hidung kita, ternyata sosok sukses ini tiada berwajah.Ia nirmuka. Rata. Biasa2 aja. Tidak sebagaimana saat ia melambai2kn tangannya mengajak kita berpacu dengan waktu memburunya.


Maka, terbengong2lah kita sejenak. Sosok sukses tidak seheboh kala kita terejek2 oleh mereka yang konon katanya telah berhasil merayu sukses, mengintiminya, bahkan -maaf- menyetubuhi tubuh sintal sukses. makin terbengong2lah kita. Mungkin mereka itu bohong, pikir kita. Apa sih menariknya sukses?!!, teriak kita berapi2. Kalau memang hanya begini saja wajah sukses, tak perlulah kita berkelahi dengan waktu!!, sambung kita meledak tak terelakkan.



Selidik punya selidik, ternyata sukses hanyalah semacam ekstase yang mengamuflase. Ia berdaya hisap magis yang membuat orang terserap ke dalam halusinasi indah dirinya. Setelah kutanyakan ke sana sini, baik dari yang sedang memburunya yang belum ketemu2 juga atau dari mereka yang benar2 telah menggaulinya, ternyata sukses itu tak berasa. Ia bahkan tak usah dikejarpun sebenarnya saban hari berada di dekat kita. Hanya saja kitalah yang tak mampu merasakan kehadirannya. Sebenarnya ia senantiasa bersolek di depan kita, mata kitalah yang picik tak mampu melihat betapa indahnya kecantikannya. Ia pun tak perlu diburu hingga memerah peluh. Ia amat dekatnya dengan kita. Kalau boleh kukatakan, seperlenganan. bahkan lebih dekat.



Lalu, kenapa kita bisa tidak jua memafhumi sukses?!.. Kebersamaan dirinya di kehidupan kita tak pula membuat kita memakrifati kehadirannya. So, whats wrong with us?!.. Lima kunna bihada?!.. Opo sing salah iki?!.. Sapa se sala riya?!..

hmm,, hmm.. sepertinya kitalah yang kehilangan kepandaian mengidentifikasi sosok sukses itu. Kita terjerembab pada ketololan kita memetakan sukses. Lho kok bisa begitu?..



Sekarang kutanya, apa yang menggerakkanmu melukis sukses dalam anganmu?.. Ruh apa yang mampu memacu lajumu memburu sukses?.. Iming-iming apakah hingga kamu berkeras kepala mengejarnya?.. Kekuatan mana yang telah menghipnotismu bergerak-berderak tanpa sadar menggapai2 sukses?.. Daya apa yang memaksamu untuk menyikut kanan kirimu saling berebut mendapatkan sukses?.. Siapa yang telah memprovokasi hingga kamu rela anarkhis demi hanya "sesuap" sukses?.. Sudah berpa banyak orang yang telah terjatuh bahkan dijatuhkan olehmu karena masing2 saling mengklaim dirinya yang paling berhak meraih sukses?.. Ternyata, jawaban dari bejibun pertanyaan ini tertuntaskan dengan satu kalimat: BAHAGIA!!.



Bahagia?.. hanya bahagiakah yang selama ini kita cari?.. Yup!! hanya bahagia. Okelah kalau begitu. he eeh, namun, setelah pergumulan panjang mencari jalan sukses hatta kita pun mampu menemui sukses, lagi2 timbul masalah, bahagia tidak ada di tempat!!. Ternyata bahagia tidak bersama sukses. Suses sendirian. Bahagia menghilang.



Memang tidak semuanya yang berhasil menemui sukses gagal menjumpai bahagia. Banyak juga yang berhasil memergoki bahagia di belakang sukses. Tapi, apakah kebahagiaan hanya punya satu jalan untuk bisa ditemui?.. apakah musti meniti sirot sukses dahulu sebelum meraih bahagia?.. apakah sukses adlah prasyarat kebahagiaan yang tak bisa ditawar?.. Apa kebahagiaan tak bisa disuap dengan tidak usah berletih-letih memburu sukses?..



Sobat, bila hanya dengan ongkang2 kaki hati kita penuh dengan bahagia apakah kita tidak boleh dikatakan sukses?..

kalau hanya dengan berkumal busana kebahagian menghampiri kita lalu kita tidak qualified diberigelari sukses?.. Apakah dengan sekadar menu sederhana tahu tempe tapi sarat nutrisi bahagia lantas kita tidak pantas telah mendapat asupan sukses?.. tidak cukupkah ditakzimi dengan julukan sukses bila hanya berjelata tak bertahta namun mempusakai dirinya dengan bahagia?.. Ataukah dompet tipis dengan beberapa lembar ribuan terselip di dalamnya tapi meruah bahagia di hatinya lalu kamu katakan ia tak layak dicap sukses?..



Sobat, sukses sejatinya adalah jalan lain menuju bahagia sukses. Ia bukan jalan tunggal menuju bahagia. masih banyak jalan lain yang justru tidak seterjal jalan sukses. Jalan itu meski hanya berupa setapak kecil, namun ternyata lebih berdaya melipat jarak menjadi lebih mampat. Jalan itu tidak memerlukan waktu beribu-ribu sekon.



Sobat, sukses hakikatnya metodologi lain untuk merumuskan kebahagiaan. Malah kualifikasi sukses justru sarat kerumitan dan berneko-neko. Masih ada formula simpel yang mampu mengurai benang kusat rumus kebahagiaan. Sukses adlah teori lapuk yang tak bisa dijamin validitas dan akurasi kebenaran hipotesanya. Sukses bahkan selalu salah. Seringkali membuat blunder. Hingga yang telah berjerih payah pun merasa terkibuli dengan sukses.



Sobat kebahagiaan ada dalam hatimu. Itulah jalan kebenaran. selama kamu mampu menghadirkan kebahgiaan dalam hatimu mengapa pulalah kamu bergila2 denagn sukses. Temukan bahagia di hatimu. Ia tersudut lama di ruang tergelap hatimu. Bangunkan dia. Betapa telah berabad-abad lamanya ia terisolir di hatimu. Seolah-olah kamu tak pernah mempercayai kehadiran dirinya di hatimu hanya karena kebahagiaan itu tidak berbusana sukses. Kamu mengingkari bahagia yang telah mendiami hatimu hanya karena ia tidak dipersenjatai materi.



Sobat, kebagiaan tidak pernah mengikatkan dirinya pada sukses. Tak sekalipun kebahagiaan musti dijemput dengan materi. Kebahagiaan pun tidak bersedia disandingkan dengan jabatan. Kebahagiaan bukan kawan karib tahtamu. Tak kunjung kudengar bahwa kebahagiaan selingkuhan status sosialmu. Ketahuilah, Semua yang berdimensi materi dan fisik sejatinya tidak pernah bersahabat dan bersaudara dengan kebahagiaan.



Sobat, kebahagiaan adlah dimensi jiwa. Ia hanya bisa disapa dengan kebeningan jiwamu. Sapalah hanya denagn jiwa beningmu. Maka, basuh jiwamu, jangan biarkan ia lusuh. Percerlang benderang jiwamu. Hanya itu yang bisa mengantarkanmu menuju kebahagiaan.





Bukan sukses kunci kebahagiaan. Melainkan kebahagiaanlah kunci sukses
Read More......

KOSONG



SUDAH













KUBILANG













KOSONG













MASIH













DIBUKA...













..... DI SINI KOSONG...

..... TEMUKAN KOSONGMU...

..... KOSONGKAN DAHULU DIRIMU SEBELUM KAMU BENAR-BENAR TERISI...

..... SUNGGUH KAMU TIDAK AKAN PERNAH SAMPAI PADA EKSTASI SEJATI RASA ISI...

..... EKSTASI SEJATI ITU TAKKAN PERNAH MENGISI PADA CERUK YANG MASIH ADA ISI...

..... SEGERA KOSONG-KAN...

..... JANGAN TINGGALKAN SETENGAHNYA...

..... BILAPUN DAPAT TERISI...

..... MAKA KAMUPUN TETAP TAK MAMPU MENGIDENTIFIKASI RASA ASLI EKSTASI SEJATI ITU...



Read More......