Mei 30, 2010

TERNYATA KITA AHLI WARIS PENDIRI PERADABAN DUNIA

“ Tongkat kayu dan batu jadi tanaman,,” sempat menjadi bait lagu yang populer. Koes Plus sepertinya tak membual. Mereka benar-benar tahu makna apa yang terkandung sepenggal bait ini. Ungkapan dalam bait ini bukanlah isapan jempol belaka. Ia ada. Ia fakta tak terbantahkan meski kadang bagi kalangan yang kerap underestimate ungkapan bait ini hanyalah tak lebih dari narsisme bullshit.

Namun bagaimana bila ungkapan sejenis terlontar dari mulut dan buah pikir seorang ilmuwan yang sama sekali tiada darah Indonesia ia punya. Ilmuwan asing yang tentu tak ada keuntungan baginya untuk mengatakan pada dunia bahwa negeri kita adalah surga dunia sesungguhnya yang kerap diperbincangkan dalam ceritera rakyat antar bangsa. Prof Arysio Santos, begitulah nama ilmuwan geologi dan fisika nuklir berdarah Brasil ini, telah mengungkapkan pada dunia bahwa di sini, di negeri khatulistiwa ini pernah berdiri sebuah peradaban besar, peradaban Atlantis yang melegenda, induk dari peradaban bangsa-bangsa di dunia.

Sungguh, prof Arysio santos pun tak mengada. Ia korbankan kurun waktu 30 tahun untuk meneliti lokasi sebenarnya dari benua yang hilang tersebut, benua Atlantis.
Berbekal kepakarannya dalam ranah geologi dan fisika nuklir disertai pengetahuannya yang luar biasa tentang ceritera yang termaktub di berbagai kitab suci dari seluruh bangsa, sang Profesor menegaskan bahwa lokasi sebenarnya benua Atlantis yang hilang tenggelam adalah di wilayah Timur Jauh, tepatnya tidak lain Indonesia.

Penegasan Prof Santos dalam bukunya tersebut tak pelak mematahkan klaim para peneliti terdahulunya. Di mana tak satupun terbersit dalam pikiran mereka bahwa di Timur Jauh, di Indonesia inilah tanda-tanda yang digambarkan Plato dalam rangkaian dialog di kedua bukunya, Timaeus dan Critias, sangat berkesuaian. Menurut Profesor, klaim situs Atlantis lainnya di luar wilayah timur jauh ini terkesan sangat dipaksakan. Fakta geologis maupun temuan artefak arkeologis sama sekali tak mendukung untuk dijadikan hujjah sebagai lokasi tenggelamnya benua Atlantis. Maka klaim lokasi Atlantis di wilayah Kuba dan perairan Karibia; Kreta Cyprus, Malta dan lokasi mediratenia lainnya; paparan Celtic, Maroko, dan Tartessos; Antartika dan Samudra Arktik kesemuanya berani ia tolak.

Keberaniannya tak hanya berdasar dari kepakarannya, namun ia ternyata pula sangat luas khazanah pengetahuannya tentang tradisi-tradisi antar bangsa yang menurutnya menceritakan satu peristiwa yang sama. Ditambah lagi pengetahuannya yang luar biasa tentang Bahasa Sansekerta dan Dravida (bahasa kuno bangsa Indonesia dan India) yang menurutnya lagi adalah bahasa asli bangsa Atlantis. Banyak istilah yang berkenaan dengan atlantologi bersumber pada dua bahasa tersebut. Salah satunya atlantis. Atlantis tersusun dari kata “atta” dan “ala”. Yang pertama bermakna daratan yang luas / benua, yang kedua bermakna tenggelam.

Satu hal yang menarik untuk digarisbawahi dalam buku ini adalah bahwa semua peradaban di muka bumi ini bersumber dari peradaban Atlantis ini. Terhitung dari peradaban Mesopotamia, Babilonia (mesir); Yunani; Romawi; Suku Maya, Inca dan Aztec (meksiko) hatta pasca renaissan pun tak bisa dipungkiri merupakan hasil sebarannya. Ragam bahasa, olah teknologi (terutama cocok tanam), ceritera legenda maupun mitologi pun tak lepas dari pengaruh hasil difusi dari kebudayaan Atlantis yang tenggelam. Statemen ini berdasar dari keternyataan bahwa ragam kebudayaan yang ada di muka bumi ini memiliki satu keserupaan.

Mari kita tengok satu contoh kasus. Kuil Suku Maya yang kesohor ternyata memiliki kemiripan yang nyaris sempurna dengan Candi Sukuh yang ada di Jawa Tengah. Piramida pun begitu –meski tak benar-benar sama-. Kuil Maya, Candi Sukuh maupun Piramida Mesir tak lain adalah replikasi dari bentuk sebuah gunung (tepatnya gunung berapi). Bukankah mesir tak memiliki gunung?! Lantas dari manakah inspirasi sang arsitek Piramida bila tidak dari negeri yang kaya akan gunung. Tentu dunia mengakui bahwa di indonesialah tempat bertaburannya gunung berapi, wilayah Indonesia kesohor sebagai zona sabuk api. Dari sinilah satu bukti bahwa sang inspirator, sang kreator yang membangun peradaban mesir dan lainnya adalah sisa bangsa Atlantis yang selamat berdifusi eksodus dari negerinya yang terlanda musibah bah semesta.

Akhirnya, dari buku setebal 670-an halaman yang sarat akan pembahasan dari literatur-literatur kuno baik kisah hasil petualangan para penjelajah legendaris kuno maupun peta kuno beserta gambaran geografis benua atlantis kita bisa meneguhkan kembali bahwa tak salah mbah buyut kita mengklaim negeri ini dengan ungkapan gemah ripah loh jinawi. Subur, makmur, sejahtera dan jaya. Semoga mata kita ini yang telah lama terpejam (atau sengaja dipejamkan) karena keterpurukan (dan dipurukkan) segera membelalak kembali. Nyala nyali jiwa kita yang bertahun-tahun melemah semoga bersuar kembali. Mari kita kenali dan gali kembali riwayat lampau mbah buyut kita. Kita adalah bangsa besar. Bangsa yang melahirkan peradaban bangsa lainnya. Kita adalah pemilik silsilah tertua dari kekerabatan umat manusia. Kenyataan pengetahuan ini sengaja dikaburkan dan dinafikan (terutama oleh bangsa barat) hanya untuk membodohi kita. Hatta bila kita merasa bodoh dan rendah diri maka mereka pun bisa menganeksasi kekayaan kita yang kesohor sepanjang zaman.
Read More......

Mei 20, 2010

FENOMENOLOGI SYNDROME MISKIN


Jangan kau tanyakan tentang kemiskinan!! Membicarakan kemiskinan di negeri yang konon sesepuh negeri ini menarsiskannya sebagai surganya dunia ini, tak ubahnya meremah angin. Di negeri yang pernah didendangkan Koes Plus sebagai “…bukan lautan tapi kolam susu,,, tongkat kayu dan batu tumbuh tanaman…”, mempertanyakan kemiskinan seperti halnya merubah arah arus sungai. Ia sesuatu yang tak mudah disentuh dengan sekadar piranti pemahaman fisik. Di sini, kemiskinan seumpama kode-kode abstrak yang terpahat menjelajari sekujur dedinding Chichen Itza, kuil piramida peningalan suku maya. Ironi kemiskinannya sama sulit dipahaminya dengan aksara hierogliph (aksara paku) hamurabi babilonia kuno. Bahkan kemiskinan di negeri Indonesia ini setakkasatmatanya dengan eksistensi pola gerak energi prana yang terinisiasi oleh sang praktisi, meski sungguh sebenarnya ia menggeliat ada di balik ketakkasatmataannya. Keberadaannya absurd untuk dicerna. Ia simbol wujuuduhu kaadaamihi, adaamuhu kawujuudihi. Ke-ada-annya tak murni ada. Nisbinyapun tak benar-benar tiada.

Jangan lagi kau tanyakan tentang kemiskinan!! Aku tak sanggup untuk menjelaskannya. Bukan aku tak tahu apa itu miskin. Justru aku malah sungguh mengenali apa itu miskin. Sehari-hari Ia selalu dekat padaku dan tak pernah mau jauh dariku. Hubunganku dengannya terjalin sangat mesra dan intim. Kadang pada titik-titik tertentu kita pernah mengalami pencapaian hubungan setinggi level harmonis. Mungkin kalau diperkenan, hubungan ini tak ubahnya sekelas visi hubungan yang selalu diidamkan setiap orang, sakinah mawaddah wa rahmah, begitu Al Quran mengistilahkan. Namun ironisnya, kedekatan itu masih juga belum mampu memberikan sebentuk pemahaman yang utuh padaku tentang apa itu miskin. Miskin bagiku tak ubahnya hidung di haluan wajahku. Ia tiada berjarak dariku. Ia tak akan pernah kutahu entitasnya jika kutak pernah berusaha mencoba memperdekatkan jarak pandang mataku padanya. Eksistensinya mengada jika kurehatkan sejenak mataku dari cakupan jauh pandang mata. Ia akan selalu niskala jika ekor mataku enggan berhenti mengibaskan pandangan pada ambang batas kapasitas jangkauan pandang mataku. Hidung pun hanya akan menampakkan sebagian dari sisi tubuhnya bila kujamah ia melalui salah satu dari sepasang mataku. Jika sepasang mata ini pun kukerahkan juga untuk menatapnya, maka yang ada adalah kebiasan. Hidung membias dari pandang mata. Membias di antara ada dan tiada. Miskin seumpama Hidung, dekat tapi pekat.

Sekali lagi kukatakan, jangan tanya teorema miskin!! Aku tak punya referensi yang akurat untuk itu. Memang beberapa sumber pijakan linguistik baik secara epistimologis maupun morfologisnya pernah kutemukan membicarakan miskin. Tapi, Beragam referensi yang ada hanya mampu beretorika di sebatas ranah sampul. Uraiannya belum mengupas sisi terdalam dari sebuah miskin. Hakikat miskin sampai saat ini masih terdapat di alam uninong uning unong, begitu tutur sang pendaki kemakrifatan jawa. Ia ada di antara ketidakadaan pengetahuanku tentang ke-ada-annya. Ia bersemayam di kesenyapan. Ia memeram diam kediriannya di atas onar orang-orang ribut memperdebatkan teori sejatinya. Sampai saat ini belum ditemukan titik kesepakatan dan kesepahaman tentang miskin. Rumusan yang tepat benar-benar mengabur. Konsep lughatan atau istilahan-nya benar-benar majhul. Ia tak bisa terjamah dari sekadar rumusan asumsi akademisi.

Berhentilah menanyakan kata miskin!! Cukuplah engkau sebatas tahu miskin seperlunya. Kau akan terjebak pada pusingan kebingungan bila kau masih saja berkutat terus menerus pada tataran tematik. Miskin tak cukup dikenali melalui kacamata teks. Ia mesti pula digali secara konteks. Miskin selama ini hanya diformulasikan pada kenyataan fisik. Padahal sejati penampakan fisik tak melulu mencerminkan realitas sebenarnya dari sebuah substansi. Realitas lahiriah kemiskinan sampai saat ini justru lebih banyak mengemuka sebagai kamuflase. Sesekali ia nampak kelihatan, tapi sejenak pula ia tenggelam dari pandangan.

Sudahlah, tak usah kau tanyakan itu lagi!! Bisakah kau menjamin kelebatan orang yang penuh dengan atribut dan simbol kemiskinan adalah sebenar-benarnya objek kemiskinan yang selama ini kita cari?! Atau bilakah ia enggan melegalkan asesoris miskin pada tubuhnya sebagai identitas kemiskinan juga adalah memang benar-benar bukan subjek miskin?! Atau bisa juga ada kemungkinan lain, beberapa oknum yang secara lahir sangat jauh dari kepantasan menyandang predikat miskin juga terbebas dari sindrom kemiskinan?!

Cukup! Tak perlu kau pertanyakan itu lagi!! Karena sampai detik ini, aku pun tak pernah habis berpikir. Oknum yang secara audit metematis bukanlah lagi pantas disebut sekumpulan orang dengan kemampuan finansial nol koma sekian rupiah. Oknum yang secara mata lahir adalah segerombolan orang dengan perbendaharaan rupiah melimpah. Ya, oknum-oknum inilah yang saban hari di setiap pentas siklus kepemimpinan pemerintahan kami tiada henti-hnetinya mempertontonkan tabiat kemiskinan yang mengurat. Kemasan perlente penampilannya tak memberi jaminan bahwa mereka merdeka dari rongrongan mental miskin. Properti yang mereka miliki hanyalah menjadi legalitas artifisial untuk mengelabui bahwa mereka sebenarnya miskin. Tengoklah, berapa duit yang mereka util dari kas dan jalur yang tak selayaknya. Berapa ribu nol rupiahkah yang mereka rampok hanya sekadar memenuhi nafsu mental miskinnya yang sejatining raga tiada sesiapalah ia orang miskin. Berapa banyak sindikasi korupsi oleh begundal-begundal “white collar” yang mengurat mengulat. Betapa ironisnya, sungguh materi berlimpah yang meningkahi kehidupan mereka sehari-hari ternyata tak cukup membuat mereka merasa berada. Keberadaaan materi yang selalu tersedia ternyata tak mampu memungkasi naluri miskin mereka. Sebenarnya, sejatining rasa, mereka adalah miskin sebenar-benarnya. Bedanya, mental miskin mereka berkedok dan terjebak dalam wadag raga kaya.

Lagi-lagi, jangan pernah lagi kau tanyakan itu lagi!!. Hanya penat yang kau dapat bila hanya berputar-putar sia-sia meributkan miskin. Bila kau ada sesempat waktu, cobalah sesekali berbaur, atau bila perlu menyemplunglah ke dalam komisi amil zakat ad hoc yang biasa muncul dan tersebar merata di belahan lingkungan mana saja saat idul adha menjelang. Komisi “kagetan” inilah yang membidani lintasan distribusi vertikal harta dari si berharta menuju si miskin. Cobalah diingat-ingat momen idul adha yang baru saja berselang. Amatilah saat timing pendistribusian yang berlangsung. Adakah semuanya benar-benar miskin?! Apakah himpitan kemiskinan jualah yang mendorong mereka berkerumun berebut jatah harta yang memang hak mereka?! Jika memang mereka benar-benar tercekik tangan seram miskin, adakah mereka mengambil sesuai dengan jumlah jatah hak mereka?! Bukankah kesempatan untuk memanipulasi jumlah jatah yang diperuntukan untuk mereka mudah dimanipulasi?! Bukankah tak sedikit pula beberapa oknum yang terendus dan teringkus menggunakan jumlah jatah melebihi jumlah hak yang seharusnya mereka terima?! Tidakkah mereka telah menyerobot hak orang miskin lainnya yang tiada kebagian mendapatkan hak jatah mereka?!.

Belum tuntas persoalan sang miskin diketengahkan, kita pula dibuat tergeleng-geleng dengan tingkah sang empunya harta kurban. Kurban yang telah diritualkan tak murni berangkat dari kerelaan jiwa. Sebelum hewan kurban di-”eksekusi”, beberapa bagian favorit dari badan hewan telah disepakati bersama untuk disisihkan sebagai hak otonomi penuh dari si empunya kurban. Sebelum harta kurban didistribusikan, daging pilihan dari beberapa anggota badan si hewan telah menjadi hak milik kembali dari peng-kurban. Ekstrimnya lagi, modus ini sudah termaktub dalam MoU (Memorandum of Understanding) antara si pengkurban dengan tim komisi.

Belum pula kita selesai bernapas sejenak, kita pun dibuat tersedak oleh ulah komisi. Tahukah anda justru di sinilah, letak sentral terparah terselenggaranya tingkah mental miskin. Jangan kaget bila kau melihat beberapa oknum komisi saling berebut jatah bagian teristimewa dari properti kurban. Sudah lumrah bila mereka di samping mendapatkan jatah lebih besar dari jatah kaum miskin sebenarnya, mereka tak segan dan sungkan berebut bagian kepala –bagian yang cenderung memiliki nilai ekonomis yang tinggi-- . memang jatah yang mereka dapatkan absah secara yuridis agama. Hak mereka memang termaktub jelas dalam dalil kitab. Namun, persentase kelayakan menerima jatah jauh melampaui jumlah jatah sebenarnya. Bahkan sebelum momen pendistribusian digelar, aksi util tanpa sepengetahuan anggota komisi yang lain tergelar, meski kadang dengan wajah innocent mereka tak risih menampakkannya di tengah anggota lainnya.Betapa kokohnya pilar mental miskin di relung jiwanya.

Sudahlah, sudah. Berhentilah kau mempertanyakan hal itu lagi!! Sobat, teorema miskin adalah teorema relativitas yang tiada terukur dengan angka-angka pasti. Kmiskinan sejatinya bukan hanya berada dalam ranah nominal harta. Jauh dari itu, kemiskinan berhulu dari kebersahajaan jiwa. Kemiskinan yang hakiki tiada pernah bisa diterjemahkan dengan perangkat akademis yang selalu berpedoman pada suatu sistem metodologi tertentu yang rumit, kaku nan berliku. Kemiskinan sejati hanya bisa dijangkau melalui interpretasi jiwa. Miskin adalah persoalan jiwa yang berpijak pada seberapa qonaah dan bersyukurnya kita terhadap kenyataan kesempatan kepemilikan kita terhadap harta. Miskin bukanlah takdir baku jalan kita, melainkan sebuah pilihan jiwa. Konglomerat bisa selalu bermental melarat jika cita rasa syukurnya telah lama sekarat. Si miskin papa pun akan senantiasa hidup dalm keberlimpahan cita sentausa bila defisitnya harta tak mampu mengusik qonaah-nya jiwa.

(Selamat hari Anti korupsi 9/12)
Say NO to Corrupt!!,,,. Don’t Judge Other. Start first From and By Ourselves!!...
Read More......

TRAGEDI SEPI??


knp y prbncangan hari2 ini kok bnyak yg mrasa sepi. tak satu dua yg qtemui yg trlontar psti sepi. tulisan pun trbaca sepi. mski tuts2 gemeletak brbunyi, yg trkirim pun sinyal sepi. apakah sepi itu pilihan ato,, kiriman(Nya)?! klo mang pilhan, sepikah yg memilih qt, atokh qt yg memilih (me) sepi?! klo mang sepi memilih qt, brrti qt sndirilah yg tlh mncipta lingkaran medan magnet hngga energi sepi trsedot dlm pusaran dn menikam qt. klo qt yg mmilih sepi. tntu ada klebihan riuh dlm diri ini yg merindu sepi. riuh bisa hadir dr ktakseimbangan emosi yg saling mencarut yg qt sndri pun tak mmpu menguraix kmbali dn qt pun trhanyut d keruhx. bila sepi mang kiriman, bisakh qt mnghibur sepi ato qt yg trhibur sepi?!.. mang ada sih yg mmpu mnerima sepi dg sukacita hngga ia pun mrasa ada keriuhan dlm sepi. ada pula yg mrasa excited dg sepi. bagix sepi adalh santapan brgizi. sehari tnpa (ber) sepi bak dehidrasi. wajah kuyu pucat pasi, urat melunglai tak mmpu mmbopong telulang. bhkan dlm kasus trtentu ada yg tlh mncapai maqom addicted sepi. lupa knsumsi sepi, kejang2 pasti. ruh tak ubahnya mau lepas dr ubun2. hmm,, sepi, sepi.
semoga ini bkn epidemik sepi. hngga q pun turut trinjeksi trinfeksi sepi.
sepi.. sepi.. sepi..
Read More......

Juni 12, 2009

GENERASI MUDA DAN DERASNYA ARUS VALENTINE

SEBUAH AJAKAN UNTUK (LEBIH) MEMBACA

Kalau saja ada lembaga survei yang mau menghitung ungkapan yang sering digunakan di bulan februari ini mungkin “Happy Valentine Day”-lah yang menempati posisi tangga chart teratas. Banyak ungkapan yang beredar di bulan ini yang kental dengan nuansa hari yang konon diyakini sebagai hari kasih sayang. Dari yang paling sederhana, sms valentine, kartu ucapan hingga assesoris bermuatan kasih sayang jamak dijumpai.


Tak kalah dalam semaraknya, pusat bisnis, perkantoran dan tempat hiburan lainnya di pelbagai kota sibuk berbenah menyambut hari “pink” ini. beragam assesoris yang identik dengan valentine digelar. Di pintu masuk, etalase hingga lobi tempat-tempat umum penuh dengan simbol valentine. Ditambah lagi dengan gebyar pemberitaan di sejumlah media massa makin menambah gegap gempitanya hari ini. Perlahan pasti kota akan menjelma ke “pink”-an.

Seremonial ini telah merebut hati para muda negeri ini. Dari tahun ke tahun pengaruh valentine kian menggeliat. Dulu, valentine masih berkutat di kalangan perkotaan, kini valentine sudah menjalar ke pedesaan. Valentine bukan lagi identik dengan kaum muda metropolis, orang udik pun tak mau dianggap ketinggalan karena tak ber-valentine ria. Hari valentine sungguh sudah menjadi fenomena baru negeri ini. hari valentine telah menjelma hari raya baru bagi mereka yang ingin mengungkapkan ekspresi kasih sayangnya. malah bisa dikatakan valentine telah tumbuh membudaya.

Namun, Sayangnya sumber sejarah valentine begitu sangat kaburnya di mata muda mudi kita. Hampir dipastikan mereka tidak tahu persis apa yang sebenarnya yang mereka rayakan. Malah yang lebih parah mereka tak berusaha cari tahu, tak tergerak “membaca” sejarah sesungguhnya dari valentine. Ketiadaan minat membaca ini membuat mereka semakin terpuruk pada ketidaktahuan. Ketidaktahuan ini akhirnya membuat kaum muda yang seharusnya adalah subjek dari budaya itu kini menjadi objek di sisi lain. Hingga disadari ataupun tidak budaya ini telah mendikte anak muda negeri ini.

Memang tak jelas dari mana valentine ini berawal. Yang pasti, di catatan warisan “eyang” kita tak ditemukan satu pun laporan tentang seremonial kasih sayang ini. Dari lembaran daun lontar, “diarinya” pencatat sejarah moyang kita, tak terukir upacara ini. Dari serat centhini maupun joyoboyo-nya “wong jowo” tak termaktub seremonial ini. Dari prasasti peninggalan kerajaan se antero negeri ini pun tak terpahat ritual ini. Lantas kalau begitu dari manakah valentine berasal?

Dalam ensiklopedia katolik disebutkan ada tiga versi yang melatarbelakangi munculnya seremoni hari kasih sayang, valentine. Satu yang paling terkenal dan yang paling “sahih” adalah, untuk mengenang kematian salah satu santo Katolik, St. Valentine oleh raja Romawi kala itu, Raja Claudius (268-270 M) di tanggal 14 Februari 270 M. St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M dihukum bunuh karena menyebarkan Agama Nashrani, agama yang bertentangan dengan agama paganis (penyembah berhala), agama resmi kerajaan Romawi masa itu.

Versi kedua, Raja Claudius melarang warganya yang bujang untuk menikah. Menurutnya tentara yang masih bujang lebih gahar dan trengginas di medan tempur dari pada mereka yang sudah menikah. Peraturan ini dapat membuat kekuatan militer romawi menjadi lebih kuat. Namun St. Valentine melanggar aturan kerajaan lalu diam-diam santo tetap menikahkan para bujang dalam gereja hingga akhirnya perbuatannya terendus kerajaan, lalu ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Dalam penjara, St. Valentine berkenalan dengan puteri seorang penjaga penjara yang menderita sakit yang kemudian diobatinya hingga sembuh. Lambat laun benih-benih cinta tumbuh. di antara keduanya. Hingga sebelum dieksekusi mati, St. Valentine mengirim kartu padanya yang berisi ucapan, “from your Valentine”. Hal ini terjadi setelah perempuan itu memeluk Agama Nashrani bersama 46 kerabatnya.

Versi ketiga, pada setiap pertengahan februari orang-orang paganis Romawi kuno mengadakan ritual untuk memperingati Dewi Juno, dewi cinta mereka. Para gadis dan bujang dikumpulkan jadi satu. Nama gadis satu persatu diundi. Bagi nama gadis yang terpilih maka si gadis harus mau menjadi pasangan bersenang-senang si bujang, si gadis harus rela menjadi eksploitasi hiburan para bujang selama sesukanya. Di sela ritual itu si bujang mengirimkan kartu ucapan yang bertuliskan, “Demi nama tuhan ibu (Dewi Juno), kukirimkan kepadamu kartu ini”. Namun setelah Agama Nasrani mulai menyebar di Eropah, Demi lebih mengikat para pemuda dalam Agama Nashrani, kalimat tersebut diubah menjadi, “Demi nama pendeta Valentine, kukirimkan kepadamu kartu ini”.

Namun seiring perjalanan waktu sejarah cikal bakal terciptanya hari raya ini lambat laun mengalami pergeseran. Mulai abad 16 M, ritual yang sejatinya penuh dengan praktik berhalaisme dan dikemas ulang untuk memperingati kematian pendeta St. Valentine berubah menjadi perayaan jamuan kasih sayang yang disebut sebagai Supercalis. Terlebih lagi pada abad pertengahan dalam bahasa Prancis-Normandia terdapat kata yang secara lafal dan tulisan mirip dengan kata valentine, yaitu galantine yang bermakna cinta. Dari sinilah akhirnya pergeseran sejarah valentine bertahan sampai sekarang.

Kalau kita cermati dari beragam versi ternyata tak satu pun yang mengusung tema hari kasih sayang yang sejati. Justru yang ditemui adalah untuk mengenang kematian pendeta Valentine yang bertentangan dengan agama sebagian besar negeri ini. toh kalaupun ada yang agak nyerempet tema kasih sayang, itu pun hanya kamuflase demi kepentingan agama tertentu. Malahan yang agak ekstrim adalah adanya sisipan ritual pergaulan bebas antar muda mudi hingga mengarah pada eksploitasi “seks”. Betapa sungguh sangat bertentangya tradisi ini dengan budaya adi luhung kita apalagi tradisi ini disinyalir bisa merusak akidah kita, akidah sebagian besar pelaku tradisi ini, akidah agama terbesar negeri ini.

Ternyata karena ketidaktahuan kita, karena ogahnya kita membaca, kita telah tertipu oleh “kemasan” tradisi ini yang memang benar-benar sangat menarik. Kemasan ini dipermak sedemikian rupa hingga menyentuh psikologi muda mudi. Perlahan tradisi pun sangat mudah diterima.

Berkat peran agen budaya dan propagandanya (media massa, film dan lainnya), seremonial valentine perlahan menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya. Tak terkecuali di negeri yang mayoritasnya muslim. Seremonial valentine ini tak ubahnya virus, di mana pun hinggap maka virus ini akan hidup. Apalagi jika tanah yang dihinggapi rapuh dari karakter lokal aslinya, budaya adi luhungnya kurang menghunjam kuat, dikarenakan kerontang akan ilmu dan gersang dari minat baca, maka, dengan mudahnya virus ini tumbuh menjamur. Jangan heran jika akulturasi budaya secara tak sehat akan terjadi.

Maka, sudah saatnya kita menempatkan kembali budaya membaca menjadi peran terdepan dalam mengokohkan character building muda-mudi Indonesia. Masuknya tradisi asing yang bisa mempengaruhi adentitas kita sebagai bangsa, tak lain karena kita tak mampu menyaring “kotoran” yang mendompleng tradisi ini. Ketidakmampuan kita menyaring disebabkan kita telah kehilangan etos membaca. Tiadanya gairah dalam membaca, kita akan tergerus oleh derasnya budaya yang kita sendiri tak tahu esensinya. Sudah banyak budaya “impor” yang cenderung kurang “sehat” telah merasuk dalam denyut kehidupan kita.

Membaca di sini bukan berarti hanya sekedar membaca belaka, namun membaca di sini bisa juga berarti mengkaji, mendalami dan menelaah sungguh-sungguh berbagai informasi apa saja yang terhampar luas di kehidupan kita. Baik dari dan berupa literatur, fenomena alam, dinamika sosial ataupun interaksi budaya. Dengan penanaman budaya membaca ini akan melahirkan karakter sikap yang kritis terhadap segala sesuatu yang baru dan asing. Tak serta merta asal comot budaya orang yang tak jelas sejarahnya

Disinilah betapa menjadi sangat urgennya untuk terus menerus membumikan budaya membaca dalam menciptakan filter kuat yang nantinya bisa menyeleksi mana kira-kira budaya yang laik untuk diadaptasikan. Selama ini yang kita tahu proses infiltrasi budaya nyaris tak tersaring mana yang kategori “bergizi” maupun yang “sampah”. Tak pelak krisisnya ilmu yang dimiliki sebagai akibat dari minimnya intensitas membaca, membuat muda-mudi kita membebek buta budaya yang sama sekali tidak sesuai dengan sejarah budaya ketimuran kita. Terlebih dengan akidah agama penganut sebagian besar bangsa ini.

Dengan kembali pada “khittah” kita sebagai “makhluk membaca” proses infiltrasi budaya akan kembali sehat. Dengan membaca. kemandirian budaya bangsa akan terjaga. Dengan banyak membaca muda-mudi kita akan merdeka dari segala penjajahan budaya. Hanya dengan banyak membaca kita pun akan lebih cerdas menyikapi sebuah budaya.
Read More......

MENELADANI JEMPOL


Sebut saja jempol. Ia adalah salah satu anggota “paguyuban” jemari. Postur tubuhnya sangat berbeda dari empat cs lainnya. Berperawakan “bundeg” pendek gemuk melebar. Jika yang lain memiliki tiga buku maka ia hanya berbuku dua.

Dengan perawakannya yang nyentrik, ternyata jempol memiliki peran unik. Boleh dikata ia adalah pentolan komunitas jari. Ia seolah-olah sengaja diplot oleh Sang Kreatornya sebagai tokoh sentral tim jari. Disetujui atau tidak, jempol adalah supermodel pemimpin sejati. Ia sangat layak jadi bahan referensi teori kepemimpinan. Maka, jika hendak jadi pemimpin atau ingin memilih pemimpin belajarlah pada jempol.

Jempol laksana seorang bapak bagi rekan-rekannya. Dalam kesehariannya tubuhnya selalu dihadapkan ke arah tubuh rekan lainnya, ia selalu nampak berada di tengah mereka seolah sedang mengayominya. Ia rela mewakafkan tubuhnya untuk melindungi mereka. Rupanya semua tenaga dan karier hidupnya didedikasikannya untuk melayani “kaumnya”.

Keberpihakan pada wong alit daripada wong elit telah mendarah daging pada jiwa jempol. Betapa ia sangat welas asih pada kaum kecil pinggiran. Jika sudah berhadapan dengan mereka hatinya mudah luruh. Berbeda dengan orang-orang besar, ia selalu bersikap tegas. Jempol tak mudah silau oleh pangkatnya alih-alih disuap. Masih ingatkah dengan permainan suit? Jempol yang dilambangkan sebagai gajah selalu mengalah pada semut, simbol representasi kelingking. Tetapi kepada manusia (jari telunjuk), sedikitpun ia tak mau mengalah.

Jempol bukanlah figur pemimpin otoriter. Tidak pula berlagak bak menara gading yang selalu berpangku tangan setiap menjalankan roda pemerintahan. Yang selalu ia lakukan adalah pola sinergi. Ia bersinergi dengan jari telunjuk menghasilkan cubitan. Anda tentu tak akan pernah bisa mencubit tanpa partisipasi jempol. Bisakah anda mencubit memakai sinergi jari telunjuk dan kelingking? Kemampuan mencubit anda akan sirna jika jempol anda buntung.

Jempol pribadi gagah berani. Dalam dirinya sama sekali tidak ada jiwa kepengecutan. Dalam momen mempertahankan diri jempol selalu berada di garis terdepan. Ia selalu menampakkan muka saat unjuk kekuatan. Tengoklah bagaimana anda mengepal. Di saat rekan yang lain menyembunyikan wajahnya dan hanya menyorongkan punggungnya, jempol dengan keperwiraannya tampil di lingkaran terluar. Sembunyi baginya adalah kedunguan tak terampuni. Maka di setiap anda mengepal untuk menghasilkan pukulan tak pernah satu kali pun jempol ngumpet dalam pelukan rekan-rekannya. Jika anda mengepal cara begini, bersiap-siaplah anda menjadi bahan tertawaan orang.

Jempol sangat piawai mengorganisir birokrasinya. ia sangat mafhum pentingnya pendelegasian wewenang. Untuk urusan yang tak perlu keterlibatan jempol maupun urusan yang sekiranya tidak bisa dilakukannya sendiri. Ia delegasikannya pada yang ahli. Dengan modus ini, maka kita mengenal aksi ketok pintu. Seumur-umur bukankah anda tak pernah mengetok pintu dengan jempol?

Hidup jempol jauh dari sorotan media. Ia nampaknya sangat tidak berselera menonjolkan kelebihan dirinya. Ia lebih mengutamakan kelebihan orang lain daripada dirinya. Dalam setiap acara ia enggan menunjukkan dirinya. Bukankah tiap anda mengacungkan diri tak sekalipun anda pernah memakai jempol? Jempol pun tak pernah berebut dengan jari telunjuk. Ia lebih memilih diam tawadu’, duduk manis mempersilahkan jari telunjuk menunjukkan dirinya di depan khalayak. Jempol memang seorang pribadi low profile.

Susah senang ditanggung bersama, begitulah pepatah orang bijak. Sebagai pemimpin, jempol sudi turun tangan ikut menyelesaikan tugas susah sekalipun. Ia tidak mau ongkang-ongkang memilih happy sendiri, apalagi clubbing. Dalam momen tertentu ia rela menyingsingkan lengan bajunya, menanggalkan sejenak jabatan mentereng yang disandingnya demi bermandi peluh turut menyelesaikan misi gladi resik yang dipimpin oleh telunjuk karena memang postur telunjuklah yang paling proporsional. Jika telunjuk tak mampu menjangkau yang lebih dalam, kelingkinglah yang mengambil alih. Bila pula ia butuh daya gedor yang lebih besar, tampillah jempol di depan. Dengan antusiasnya mereka bersatu padu mengerahkan tenaga mengorek-orek gumpalan putih abu-abu dari cerobong hidung kita.

Dengan telatennya mereka mengeluarkan lembar demi lembar kotoran yang menggemaskan ini. Saking gemasnya kadang kita tidak langsung membuang “hasil tambang” tersebut. Entah, apa karena memang kita terlalu berat hati melepasnya pergi. Yang jelas kita masih sempatkan barang sejenak “bermain-main” dengannya hingga aroma khasnya terasa menyeruak. Untuk urusan satu ini jempol dan telunjuk sudah sangat paham keinginan empunya upil.

Jempol bukanlah pribadi yang suka merendahkan orang lain. Tidak pula meremehkan tugas sekecil apapun sebagaimana yang dilakukan kelingking bila ia terpetik. Jempol pribadi simpatik. Ia selalu menghargai kinerja bawahannya dengan sikap hormat mengangkat badannya berdiri. Ia simbol kualitas. Terasa kurang absah jika produk tertentu yang diklaim bermutu baik tidak menampangkan wajahnya yang tembem. Kehadiran wajahnya pertanda keunggulan kualitas.

Jempol sangat piawai merebut hati seseorang. Jika badannya telah teracung, maka moral juang seseorang perlahan terangkat. Sikap badannya tersebut biasa diterjemahkan sebagai ekspresi apresiasi dan empati bagi seseorang. Ia pun sangat menjunjung tinggi adab adi luhung. Ia sangat mengagungkan lawan bicaranya. Ia tidak suka menudingkan telunjuk untuk menunjuk. Ia lebih suka merundukkan badannya sendiri sembari membentuk formasi menunjuk, begitulah kesopanannya. Jempol juga bukanlah pribadi yang gemar mencela seseorang. Ia terbiasa menjaga kebersihan sikapnya dari prilaku asosial. Ia sangat segan mengata-ngatai orang lain apalagi mencaci. Ia bukanlah jari tengah yang jika teracung terluncurlah kata minor bernada sumbang menohok hati: fuck you man!

Meski sebagai pemimpin, tak sekalipun jempol tergiur kemewahan yang terhidang di depannya. Ia sama sekali bukanlah oportunis yang selalu memanfaatkan jabatan. Ia bukan pula penganut paham aji mumpungisme, mumpung ada kesempatan menumpuk kekayaan. Jempol adalah pemimpin yang zuhud. Kendati secara de jure ia legal menggunakan fasilitas negara yang memang ia pantas mendapatkannya, jempol enggan menggunakannya.

Coba periksalah jemari anda, di jari manakah perhiasan mentereng nangkring. Jika hanya satu cincin berbatu akik yang anda punya, tentu yang selalu dimanja adalah jari manis. Jika perbendaharaan cincin bertambah, terjadilah silang sengkarut saling berebut antara jari tengah, kelingking dan telunjuk. Masing-masing saling mengklaim merasa dirinya lebih berhak dan merasa lebih pantas. Hingga jika koleksinya pun bertambah, jempol tetap saja mengalah, ia lebih memilih hidup sederhana. Namun jika anda pun tetap ngotot memaksakan jempol untuk mengenakannya. Maka, dinamika perketoprakan Indonesia makin berdenyut. Srimulat pun akan bangga. Tidak bukan, karena telah terlahir Tesi yang baru. “Hidup Tesi!”..
Read More......

RUANG KELUARGA DAN BUKU


Sebuah Harmoni Yang Hilang

Sampai saat ini saya masih selalu merindukan suasana unik ruang keluarga masa lalu. Suasana saling berebut sebuah benda yang pernah menjadi satu-satunya benda yang paling digemari di tengah keluarga. Meski kadang perebutan berujung pada pertengkaran sesama saudara. Eureka! betapa sangat puas dan bangganya jika benda yang satu ini berada di genggaman sang pemenang rebutan. Yap! Buku, benda ini, telah menjadi tradisi objek bulan-bulanan antar saudara. Dan memang bukulah biang kerok keributan kecil ini.

Namun, sayang kini ajang serupa tak pernah saya jumpai. Yang tersisa hanyalah keributan. Tapi lagi-lagi tetap memperebutan sebuah benda. Malahan keributan sekarang ini berskala lebih besar. Peserta “perang” meluas hingga melibatkan ortu, terutama –tak bisa dipungkiri- ibu.

Uniknya, meski telah diberlakukan jam bergilir untuk menguasai benda satu ini pada tiap kubu, tetap saja benih keributan mudah meletup. Bukan apa, karena memang potensi bertubrukan jam-jam favorit antar kubu terbuka lebar. Makanya masing-masing kubu punya strategi sendiri. Seolah seperti terlatih, mereka saling mengintai kesempatan menyerobot kubu yang lain. Siapa yang lengah pasti akan kalah. Dalam hal ini, berlaku hukum ; siapa yang lebih kuat pamornya maka kuatlah otoritasnya. Namun ironisnya bukanlah buku yang menjadi pemicu. Ternyata, sebongkah remote-lah “the one and only” provokator. Apa lagi kalau bukan remote tipi (TV).

Kalau mau sejenak melipat waktu ke masa lalu, memang dahulu ruang keluarga punya nilai penting dalam tiap rumah. Di sinilah dinamika keluarga tercipta. Dari hanya sekedar melepas penat menanti malam merapat, hingga tempat mencumbui beragam buku yang biasa akrab meski kerap berebut kitab. Di samping menjadi ruang utama tempat berkumpulnya keluarga bercengkerama, ruang keluarga juga memiliki fungsi sebagai area pembelajaran keluarga. Betapa sangat mudahnya ditemukan benda-benda pustaka di ruang ini. Maka, pantaslah kiranya jika ruangan ini bisa disebut juga ruang perpustakaan.

Bila dicermati, sebenarnya ruang keluarga adalah sokogurunya rumah. Sekedar membandingkan dengan mikroba, misalnya. Ruangan ini adalah nukleusnya, inti sel. Di sini dan dari sinilah denyut kehidupannya bermula. Seberapa besar kemampuan mikroba mempertahankan eksistensinya dan mampu memperlanjutkan keturunan unggulnya tergantung dari seberapa bergairah dan berdaya hidup sebuah inti selnya.

Oleh karenanya, saya berani bertaruh, orang besar terlahir dari bagaimana keluarganya memanfaatkan dan mengelola ruang keluarga. Jika ruang keluarga sangat dekat dengan dunia baca, tentulah generasi cerdas akan tertetas. Jika ia terlecut dari semangat pembelajaran. Maka, terlahirlah barisan orang besar berpengetahuan menghunjam. Bukankah orang besar terbentuk dari kegairahan tradisi membaca yang terbangun sedari ranah keluarga. Sangat sukar ditemui dalam lembaran sejarah bila ada satu orang besar malas membaca. Mustahil pula pengidap “book adicted” (pecandu buku) tidak bisa jadi orang besar. Toh kalaupun ada, paling tidak dia mampu membesarkan orang besar.

Maka bangsa Indonesia pun pernah diwarnai figur-figur sekaliber Buya Hamka, Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dan sederetan orang besar lainnya yang kesemuanya terlahir dan terdidik dari ruang keluarga. Merekalah prototype produk ruang keluarga yang memang kala itu masih belum begitu terkontaminasi oleh kehadiran si kotak ajaib hasil olah teknologi peradaban jaman ini, tipi. Benda inilah yang telah mencerabutkan romantisme masa lalu. Kehadirannyalah yang mampu menggeser peran buku sebagai agen pembelajaran.

Oleh karenanya, jangan heran jika buku sudah sangat susah dijumpai di ruang keluarga. Eksistensi buku telah terlucuti dari ruang keluarga. Tidak ada lagi benda tebal persegi yang dulunya mengisi rak-rak lemari. Kalau pun toh masih ada, itu pun bukan ditempatkan dalam ruangan tempat berkumpulnya keluarga. Posisinya kini tersudutkan, terpojok sendirian, tak terjamah, kumal berdebu –karena tak pernah tersentuh-, tergeletak tak bergerak dalam seraknya rak.

Keberadaan buku tak ubahnya souvenir. Nilai gunanya tak lebih hanyalah sebagai hiasan. Entah untuk menghias apa. Konon bisa menghias status sosial si empunya buku. Semakin banyak stok buku yang dimiliki, semakin tinggi pula prestise-nya. Semakin tebal jilid buku, kian ampuh ujaran sang empu. Malahan jika kitabnya lebih menguning dan berdebu apalagi penuh robekan hasil dicicipi rayap, maka semakin gilap aura kharismatis si kolektor kitab. Lalu, bagaimanakah dengan buku anda?
Read More......